Fasisme Mengancam HAM Sedunia

Anata Syah Fitri
09/12/2016 18:59
Fasisme Mengancam HAM Sedunia
(AP)

PERSERIKATAN Bangsa Bangsa (PBB) menyatakan 2016 sebagai tahun bencana bagi hak asasi manusia (HAM) di seluruh dunia. Standar HAM di seluruh penjuru dunia tengah mengalami tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat retorika fasisme yang berkembang di berbagai wilayah di Eropa dan Amerika Serikat.

Menjelang hari HAM sedunia yang jatuh pada 10 Desember, Komisaris Tinggi PBB Bidang HAM Zeid Ra'ad Al Hussein mendesak semua negara di penjuru dunia untuk melawan bahaya erosi yang mengikis perlindungan terhadap HAM. Dia memperingatkan standar HAM sedang mengalami tekanan luar biasa besar dan berisiko tercerai berai.

"Jika pengikisan terhadap sistem HAM dan aturan hukum yang selama ini dibangun dengan hati-hati ini terus berkembang, akan mencapai satu momentum ketika akhirnya semua orang akan menderita," ujar Zeid.

Ia mengacu pada sederet konflik yang tengah terjadi, semisal Suriah yang telah menyebabkan krisis pengungsi, gerakan ekstrimis yang melakukan tindak kekerasan keji terhadap warga sipil, perubahan suhu, diskriminasi dan kesenjangan ekonomi.

"Kesalahan para pemimpin negara dalam mengadapi isu-isu tersebut telah menyebabkan banyak dari mereka menyuarakan eksploitasi dari ketakutan, menyebarkan informasi yang salah, dan mengobral janji yang tidak bisa mereka penuhi," kata Zaid.

Hal itu terkait kemenangan segelintir kaum populis di Eropa, juga fakta dari Pemilu AS yang menghasilkan Donald Trump sebagai Presiden AS selanjutnya. Di sebagian bagian Eropa dan AS, ujar Zaid, retorika antipendatang yang penuh dengan kebencian dan komentar pedas di luar batas telah berkembang tak teratasi menyebarkan suhu ketakutan.

"Retorika fasisme tidak lagi sebatas rahasia di dalam dunia para fasis, dalam pertemuan di klub remang-remang atau di 'Deep Net'. Sekarang sudah mulai menjadi bagian dari wacana sehari-hari," tuturnya.

Zaid yang akan meluncurkan kampanye bertajuk "Bangkitlah hari ini untuk membela HAM" pada 10 Desember, meminta semua orang untuk menolak kekerasan dan kebencian yang mengancam dunia.

"Di tengah gejojak besar dan perubahan cepat, nilai-nilai yang menyangga perdamaian dunia itu terlalu penting untuk hanya diserahkan menjadi tanggung jawab institusi internasional dan pemerintah saja," tegasnya. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya