Forum Sektor Swasta PBB Dukung Pembangunan Berkelanjutan

Eko Rahmawanto
21/9/2016 20:20
Forum Sektor Swasta PBB Dukung Pembangunan Berkelanjutan
(MI/denny saputra)

ASIA Pulp & Paper Group (APP) bergabung bersama perwakilan UN Global Compact, Unilever, Marks & Spencer, Danone, TATA dan 12 perusahaan kelas dunia lainnya pada peluncuran laporan baru dari perusahaan konsultan migas DNV GL.

Laporan tersebut memprediksikan tidak akan ada satu pun dari ke-17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB atau SDGs yang akan terpenuhi sebelum 2030. Laporan itu diluncurkan menjelang Forum Sektor Swasta PBB atau United Nations Private Sector Forum yang diselenggarakan pada Climate Week NYC 2016 di New York, Amerika Serikat, Selasa waktu setempat

Seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia Eko Rahmawanto, dalam laporan baru tersebut disimpulkan bahwa akan ada kemajuan dalam pelaksanaan ke-17 SDGs di berbagai kawasan dunia. Namun langkah-langkah yang diambil cenderung kurang cepat dan kurang adil, serta akan berdampak cukup buruk pada lingkungan. Padahal, besarnya tantangan untuk mencapai sasaran SDGs itu membutuhkan langkah cepat dan dunia usaha dapat memainkan peran vitalnya.

Sejalan dengan misi UN Private Sector Forum, laporan baru tersebut menampilkan inovasi bisnis dan perubahan model bisnis yang dilakukan 17 perusahaan dalam rangka mendukung pencapaian SDGs. Dalam laporan itu juga disebutkan perusahaan yang mampu bertahan di masa mendatang ialah perusahaan yang operasionalnya selaras dengan sasaran SDGs.

APP tampil dalam laporan itu sebagai kasus pembelajaran untuk SDGs Nomor 15 – 'Kehidupan di Darat’, yang antara lain bertujuan mengelola hutan secara berkelanjutan, menghentikan degradasi lahan dan merestorasi lahan, serta mempertahankan keragamanan hayati.

APP dijadikan contoh dalam konteks ini karena sejak 2013 telah menerapkan kebijakan konservasi hutan (forest conservation policy), yakni komitmen APP untuk meniadakan praktik deforestasi dari mata rantai pasokannya.

APP memang menghadapi beragam tantangan dalam mengedepankan penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Namun, perubahan pada model bisnis APP merupakan bukti nyata bahwa perubahan memang bisa dilakukan oleh sektor swasta.

"Pertanyaannya bukan apakah sasaran SDGs dapat dicapai, melainkan seberapa cepat sasaran-sasaran tersebut bisa dicapai. Pada akhirnya, ini merupakan masalah ketahanan," kata Aida Greenbury, Managing Director Sustainability APP.

Aida menilai untuk mencapai sasaran SDG nomor 15 dibutuhkan kerja sama lebih erat antara kalangan bisnis, komunitas lokal, LSM dan pemerintahan. "Semakin jauh kita menjalani forest conservation policy, makin kita sadari bahwa mengakhiri deforestasi dan mendukung pemerintah dalam upaya konservasi dan mencapai sasaran SDGs memerlukan kerjasama yang mencakupi seluruh lanskap."

Pengamatan DNV GL menunjukkan bahwa pencapaian sasaran SDGs akan menjadi tantangan yang cukup berat. "Namun kita juga melihat banyak sekali perkembagan dalam 5 tahun terakhir dan kepemimpinan yang semakin kuat di berbagai negara. Contohnya, Presiden Joko Widodo telah membuat komitmen tegas untuk tidak lagi mengembangkan lahan gambut. Ini merupakan langkah besar dan kita berkomitmen untuk mendukungnya."

Langkah berikutnya dalam upaya mencapai sasaran SDGs ialah untuk mengedepankan pendanaan perubahan iklim dan tanggung jawab konsumen. Jika dana perubahan iklim bisa disampaikan ke komunitas di kawasan hutan dan konsumen menuntut adanya tindakan tegas, maka perubahan akan cepat terjadi. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya