Parasit Resisten Obat Ancam Dunia

21/2/2015 00:00
Parasit Resisten Obat Ancam Dunia
(AFP)
PARASIT malaria yang resisten pada obat artemisinin dideteksi telah menyebar di Asia Tenggara. Uji coba yang dipublikasikan di jurnal Lancet Infectious Diseases menunjukkan resistensi itu dideteksi di Kamboja, Laos, Thailand, Vietnam, dan Myanmar, juga wilayah India.

Peneliti bahkan menyebut perkembangan parasit resisten obat itu mengkhawatirkan dan merupakan ancaman besar bagi kesehatan global.

Tim peneliti mengambil sampel darah 940 pengidap malaria di 55 lokasi di Myanmar, salah satunya di wilayah Sagaing yang berjarak hanya 25 kilometer dari perbatasan dengan India.

"Kami lihat resistensi terhadap obat artemisinin ini telah mendekati perbatasan Myanmar-India. Jelas, ini merupakan ancaman di masa depan," kata Dr Charles Woodrow dari Unit Riset Obat-Obatan Tropis Mahidol-Oxford di Thailand.

Artemisinin biasa diberikan sebagai terapi kombinasi malaria. Namun, menurut Woodrow, resistensi parasit itu akan terus menggagalkan daya kerja obat kombinasi.

Kejadian resistensi parasit malaria terhadap obat rupanya bak sejarah yang berulang.

Dulu, obat malaria, chloroquine, berhasil menyembuhkan ratusan juta penderita malaria. Namun, pada 1957, kasus resistensi terhadap chloroquine pun ditemukan di Kamboja dan Thailand. Dari situ, resistensi menyebar ke seluruh dunia.

Di Afrika, kasus malaria jauh lebih banyak daripada di Asia Tenggara. Infeksi yang berulang kali sangat umum terjadi sehingga daya tahan tubuh manusia di sana berkembang.

Itu berarti sistem imunitas alami dan obat-obatan berbagi peran dalam melawan malaria. Karena itu pula, wilayah Asia Tenggara menjadi lokasi yang memudahkan parasit mengembangkan daya resistensi baik terhadap obat chloroquine maupun artemisinin.

"Cepatnya penyebaran resistensi terhadap artemisinin sudah mengkhawatirkan. Kita butuh upaya internasional yang lebih besar guna mengatasi isu ini, terutama di perbatasan," jelas Philippe Guerin, Direktur Lembaga Worldwide Antimalarial Resistance Network.

Mike Turner, kepala bagian infeksi dan imunobiologi di lembaga medis amal Wellcome Trust, juga melontarkan peringatan.

Kata dia, "Riset baru ini menunjukkan bahwa sejarah sedang berulang, dengan penemuan parasit yang resisten pada obat artemisinin menyebar di Myanmar, padahal obat itu merupakan andalan dalam pengobatan malaria. Risikonya, ribuan nyawa manusia bisa terancam."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya