Hukum belum Berpihak pada Korban Pemerkosaan

Deri Dahuri
17/5/2016 00:01
Hukum belum Berpihak pada Korban Pemerkosaan
(MI/ATET DWI PRAMADIA)

KEKERASAN seksual berupa pemerkosaan tengah menjadi sorotan di Tanah Air. Berdasarkan laporan media massa, angka kasus pemerkosaan menunjukkan lonjakan yang memasuki level mengkhawatirkan. Yang memilukan, sebagian korbannya ialah anak-anak dan remaja. Sejumlah kalangan menilai data kasus pemerkosaan meningkat disebabkan keluarga korban atau korban mulai berani melaporkan apa yang dialami. Sebelumnya, banyak korban pemerkosaan, termasuk keluarga korban, umumnya lebih memilih bungkam dan menutupi penderitaan mereka. Mereka masih beranggapan korban pemerkosaan sebagai 'aib' yang tak patut dilaporkan. Sikap ketertutupan tersebut menyebabkan kasus pemerkosaan yang dilaporkan hanyalah 'sebuah gunung es'. Kasus yang sebenarnya diyakini jauh lebih besar. Dampak lainnya para pelaku bisa melenggang tanpa tersentuh oleh hukum. Kondisi tersebut justru akan memberi peluang bagi pelaku untuk mengulang aksi kejahatan seksualnya. Tak semata itu, tidak adanya efek jera yang setimpal dapat mendorong tindak pemerkosaan selanjutnya.

Afrika Selatan
Persoalan pemerkosaan serius serupa tengah dihadapi Afrika Selatan (Afsel). Angka pemerkosaan di negara paling makmur di Benua Afrika itu merupakan yang terbesar di seluruh dunia. Dewan Riset Medis (MRC) Afsel melaporkan 500 ribu kasus pemerkosaan. Diprediksi, lebih dari 40% perempuan di negara yang menerapkan sistem pemisahan warna kulit (apartheid) itu menjadi korban pemerkosaan. MRC melaporkan hanya satu dari sembilan perempuan yang melaporkan kasus mereka kepada polisi. Dengan demikian, angka kasus pemerkosaan yang sebenarnya jauh lebih tinggi daripada angka yang tercatat di kantor polisi. Mayoritas kekerasan seksual dengan korban perempuan.
Sebagian pria dan anak laki-laki juga mengalami kejahatan serupa. Laporan mengungkapkan lebih dari 4% laki-laki telah dipaksa untuk berhubungan seks dengan laki-laki lain. Polisi setempat mengungkapkan 41% korban dari kejahatan seksual yang dilaporkan ialah anak-anak. Lebih miris lagi, sekitar 15% dari korban pemerkosaan ialah anak-anak yang berusia di bawah usia 11 tahun. "Saya tidak ingat usia berapa pertama kali saya menyadari diperkosa," ucap Pumla Dineo Gqola, profesor yang mengamati dan meneliti kasus pemerkosaan di Afsel.

Ia juga menjadi pernah menjadi korban pemerkosaan. Gqola, penulis buku Rape: A South African Nightmare, menyesalkan banyak kasus dengan pelaku figur publik tidak dapat disentuh hukum. Sebaliknya, korban pemerkosaan mengalami perlakuan lebih buruk lagi. Bahkan Presiden Afsel Jacob Zuma dituduh memerkosa perempuan yang dipanggil Khawezi pada 2005. Akibatnya, Khawezi tertular oleh HIV. Dalam persidangan, hakim menyatakan Zuma tidak bersalah. Sebaliknya, Khawezi yang menjadi korban harus meninggalkan Afsel. Gqola mengatakan para korban pemerkosaan bukan hanya perempuan biasa. Publik figur yang terkenal pun tidak lepas dari ancaman pemerkosaan. "Bahkan bintang olahraga pun tidak aman," ucapnya mengacu ke derita Eudy Simelane. Bintang sepak perempuan di tim Banyana Banyana menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan sekelompok laki-laki.

Swedia
Kasus pemerkosaan kedua tertinggi dunia terjadi di Swedia. Negara di 'Benua Biru' itu memiliki angka kasus pemerkosaan 53,2 per 100 ribu. Data statistik menunjukkan satu dari empat perempuan Swedia menjadi korban pemerkosaan. Dari tahun ke tahun, kasus pemerkosaan bukannya menurun, melainkan justru meningkat. Pada 1975, tercatat hanya 421 kasus yang dilaporkan ke kepolisian. Namun, pada 2014, angka yang dilaporkan 6.620 atau terjadi peningkatan hampir 16%. Kini Swedia menjadi negara dengan tingkat perkosaan tertinggi di kawasan Eropa. Pada 2013, Dewan Nasional Swedia untuk Pencegahan Kejahatan (BRA) melaporkan ada 63 kasus pemerkosaan yang dilaporkan ke polisi per 100 ribu warga. Data lain menyimpulkan satu dari tiga perempuan negara menjadi korban kekerasan seksual setelah meninggalkan masa remaja.

AS tiga besar
Faktor kemiskinan kerap dijadikan kambing hitam meningkatnya kasus pemerkosaan. Tidak hanya kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah juga menjadi salah satu faktor. Ternyata negara adidaya, Amerika Serikat (AS), pun belum mampu membendung dan menekan angka kekerasan seksual. Bahkan dua tahun lalu, jumlah kasus pemerkosaan di 'Negeri Paman Sam' menempati urutan pertama di seluruh dunia. Namun, setelah dua tahun berlalu, AS termasuk negara dengan jumlah kasus terbesar ketiga dunia. Surat kabar USA Today telah mengutip Worldwide sexual assault statistics yang dipublikasikan George Mason University. Statistik menunjukkan satu dari tiga perempuan AS mengalami pelecehan selama hidup mereka. Statistik juga melaporkan 19,3% perempuan dan 2% laki-laki di negara yang kerap mengusung kebebasan dan hak asasi manusia tersebut menjadi korban perkosaan sekali dalam hidup mereka. Selain itu, sebanyak 43,9% perempuan dan 23,4% pria mengalami kekerasan seksual. Sebagian besar korban kekerasan seksual berusia muda. Bahkan 79% korban diperkosa pertama kali sebelum usia 25 tahun dam 40% sebelum usia 18 tahun.

Lembaga pemerhati kasus kekerasan seksual Rape, Abuse, & Incest National Network (RAINN) mengungkapkan setiap 107 detik, warga AS mendapat serangan kekerasan seksual. Sebagian besar dari 293 ribu korban kekerasan seksual berusia lebih dari 12 tahun setiap tahun. Namun, sekitar 68% dari korban kekerasan seksual tidak dilaporkan ke pihak kepolisian. Akibatnya 98% pelakunya tidak pernah dijerat hukum dan merasakan jeruji tahanan. Lembaga pendidikan yang mengajarkan sains dan teknologi tidak serta-merta bebas kekerasan seksual. Di AS, sekitar 65.668 siswa perempuan dan 2.866 siswa laki-laki mengalami kekerasan seksual. Namun, hanya 16% dari total kasus yang dilaporkan.
Kenapa kasus pemerkosaan tinggi di 'Negeri Paman Sam'? Seorang perempuan 19 tahun yang tinggal di daerah perdesaan, Negara Bagian Alaska, mengatakan polisi tidak segera datang, padahal telah ditelepon berulang kali. 'Kenapa kasus pemerkosaan tinggi di Alaska? Karena kita membiarkannya', tulis seorang bloger yang menanggapi laporan 80 kasus pemerkosaan per 100 ribu warga di Alaska. Negara sekutu AS, Inggris, juga memiliki angka kasus pemerkosaan yang besar dan menempati nomor empat dunia. Dalam laporan yang bertajuk An Overview of Sexual Offending in England and Wales pada 2013, kementerian kehakiman dan badan statistik setempat melaporkan terdapat 85 ribu kasus pemerkosaan di Inggris dan Wales per tahun. (Dailymail/USA Today/Guardian/Wonderlist/AFP/Drd/I-2) :



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya