Maduro Tangkapi Pemilik Pabrik

Maduro Tangkapi Pemilik Pabrik
16/5/2016 04:21
Maduro Tangkapi Pemilik Pabrik
(AFP PHOTO / JUAN BARRETO)

SITUASI Venezuela kian memanas setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan dekret darurat baru, Sabtu (14/5) waktu setempat, memerintahkan pihak berwenang untuk melakukan penyisiran dan penyitaan pabrik-pabrik yang berhenti beroperasi. Di hadapan massa pendukungnya di ibu kota Venezuela, Caracas, Maduro mengatakan negara harus memulihkan berbagai sarana produksi untuk melawan krisis ekonomi yang mendalam. Ia memerintahkan pihak berwenang untuk menangkap para pemilik pabrik yang membandel, yang disebut kaum borjuis. Sehari sebelumnya, suksesor Hugo Chavez itu menetapkan status darurat nasional baru dan menuduh Amerika Serikat (AS) ikut bermain merusak stabilitas negara.

Kepada para pendukungnya, Maduro mengumumkan beberapa langkah yang akan diambil berdasarkan dekret baru, yang belum dipublikasikan. "Kita harus mengambil langkah-langkah untuk memulihkan kapasitas produksi yang lumpuh akibat ulah kaum borjuis," tegasnya. "Siapa pun yang ingin menghentikan (produksi) untuk menyabotase negara harus hengkang, dan mereka yang melakukan aksi itu harus diborgol dan dikirim ke PGV (Lembaga Pemasyarakatan Venezuela)," ujarnya di depan para pendukungnya yang memakai kostum merah. Maduro juga memerintahkan latihan militer untuk mempersiapkan segala skenario demi melawan apa yang disebutnya 'agresi asing', yaitu pihak yang ia sebut telah menyebabkan negaranya dihantam krisis hingga terseret ke jurang kehancuran.

Sejumlah langkah itu diambil Maduro setelah perusahaan makanan dan minuman terbesar di Venezuela, Polar Group, menghentikan produksi bir pada 30 April. Perusahaan menuding manajemen pemerintah tidak becus sehingga mereka tidak lagi bisa mengimpor gandum. Pemilik Polar Group, miliarder Lorenzo Mendoza, merupakan penentang vokal Maduro, dan presiden menuduhnya berkonspirasi melawan pemerintahannya.

Perang ekonomi
Maduro mengatakan, kelangkaan bahan pangan, obat-obatan, dan barang-barang dasar disebabkan perang ekonomi yang dilancarkan para pemimpin bisnis dan AS terhadap pemerintahannya. Washington memiliki hubungan yang buruk dengan Caracas sejak Hugo Chavez berkuasa pada 1999. Dengan memiliki cadangan minyak salah satu terbesar di dunia, Venezuela sangat mengandalkan ekspor minyak sebagai sumber pendapatan. Namun, ekonomi negeri itu ikut terpukul seiring dengan anjloknya harga minyak di pasar global. Ekonomi negara di Amerika Selatan itu terkontraksi 5,7% tahun lalu dan tingkat inflasi resmi diperkirakan akan mencapai 180%. Masa perpanjangan dekret tidak jelas, tapi para penentang Maduro menilai dekret keadaan darurat itu dimanfaatkan Maduro untuk membatasi hak protes, menguasakan penangkapan, dan memungkinkan penggerebekan tanpa surat perintah. Pemimpin oposisi Henrique Capriles memperingatkan Maduro tengah menerapkan strategi berbahaya. "Venezuela ialah sebuah bom yang bisa meledak kapan pun," ujar Capriles di depan sekitar 1.000 demonstran di Caracas. (AFP/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya