Sang Mata Satu yang Diburu

AFP/Pra/I-3
16/6/2015 00:00
Sang Mata Satu yang Diburu
(AFP/HO/ANI)
MOKHTAR Belmokhtar, pemimpin Al-Qaeda di wilayah Libia yang dilaporkan tewas karena serangan udara Amerika Serikat (AS), Senin (15/6), merupakan salah satu buron yang paling dicari dunia internasional.

Belmokhtar dilahirkan di sebuah desa bernama Ghardaia, Aljazair. Ia dibesarkan dengan latar belakang yang penuh dengan kekerasan. Ia pernah mengatakan bahwa sejak kecil dirinya telah menjadi korban kekerasan dan eksploitasi yang dilakukan tentara Soviet di Afghanistan.

Pengalaman masa kecilnya tersebut membuat kehidupannya menjadi keras. Ia pun memutuskan bergabung dengan salah satu kelompok ekstremis di Afghanistan pada 1991, saat berusia baru menginjak 19 tahun.

Pria yang kerap disapa 'mata satu' itu mengungkapkan dirinya kehilangan satu matanya saat menjalani pertempuran di Afghanistan. Ia mengaku bahwa serpihan peluru meriamlah yang membutakan matanya. Sejak saat itu, julukan 'mata satu'pun melekat padanya.

Pada 1993, Belmokhtar kembali ke Aljazair. Ia bergabung dengan Armed Islamic Group (GIA) yang sangat kontra terhadap pemerintah. Kelompok tersebut juga sering melakukan kekerasan dan pembantaian terhadap warga sipil serta menyerang sejumlah desa.

Belmokhtar mendapatkan masa-masa keemasannya berkat pengetahuannya yang mendalam tentang hukum 'Zona Abu-abu'. Kemudian, keberhasilannya diperkuat dengan memperluas jaringan dengan suku-suku di wilayah yang dikuasainya dengan ikatan pernikahan.

Pada 1998, Belmokhtar memisahkan diri dari GIA dan membentuk Salafist Group for Preaching and Combat (GSPC). Sembilan tahun kemudian, GSPC secara resmi mengadopsi ideologi jihad Osama bin Laden dan menamai dirinya Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM).

AQIM menggerakkan bisnis yang membentang di seluruh wilayah Afrika. Kelompok tersebut dengan nyaman beroperasi di medan gurun yang keras. Selain melakukan bisnis, mereka juga menghasilkan jutaan dolar AS dari uang tebusan yang mereka dapatkan dengan menyandera warga Eropa.

Namun, kemudian salah seorang petinggi AQIM mengeluarkan Belmokhtar secara paksa. Para petinggi AQIM menganggap Belmokhtar tidak loyal terhadap kelompok tersebut. Ia juga dianggap tidak memiliki komitmen.

Perpecahan tersebut menjadi berita utama internasional pada 2013, setelah sepucuk surat dari organisasi Al-Qaeda ke Belmokhtar ditemukan dan diterbitkan secara luas.

Sejak saat itu, Belmokhtar mendirikan Signatories in Blood pada akhir 2012. Kelompok yang didirikannya itu kemudian bergabung dengan Mujao, salah satu kelompok jihad yang menguasai bagian utara Mali pada awal 2012.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya