Setelah Hampir 70 Tahun, Baru Dapat Status

MI
16/6/2015 00:00
Setelah Hampir 70 Tahun, Baru Dapat Status
(AFP/Ye Aung Thu)
SETELAH hampir 70 tahun tidak mengantongi status kewarganegaraan, lebih dari 50 ribu orang sekarang akan menerima kewarganegaraan. Semua itu terealisasi setelah perjanjian perbatasan bersejarah antara India dan Bangladesh disepakati.

Kunjungan pertama Perdana Menteri (PM) Narendra Modi ke Dhaka, ibu kota Bangladesh, telah menghasilkan kesepakatan soal perbatasan yang meliputi 161 'daerah kantong' di sepanjang 4.100 km daerah perbatasan di antara kedua negara. Daerah kantong merupakan wilayah satu negara yang dikelilingi wilayah negara lain.

Sebenarnya kesepakatan telah dicoba diusulkan sejak 1974 untuk membantu puluhan ribu orang yang tinggal di wilayah perbatasan atau kantong-kantong tersebuti. Namun, perjanjian itu belum diratifikasi hingga Modi berkunjung ke Dhaka. Kunjungan Modi juga dilihat pejabat dan analis politik sebagai pertanda penguatan hubungan antarnegara tetangga di Asia Selatan.

Kesepakatan perbatasan itu mengatur pelepasan atau pertukaran 111 wilayah India untuk Bangladesh, serta 51 wilayah Bangladesh untuk India. Orang-orang yang tinggal di kedua sisi dibebaskan untuk memilih kewarganegaraan mereka.

Sebanyak 50 ribu orang tanpa kewarganegaraan telah hidup menderita selama puluhan tahun. Bukan hanya tidak mendapatkan layanan pemerintah, mereka juga tidak dapat akses gerak untuk melakukan perjalanan ke mana pun karena tidak memiliki paspor.

"Ini (kesepakatan) merupakan puncak dari perjuangan orang-orang di wilayah kantong selama beberapa dekade," ujar Diptiman Sengupta, seorang aktivis di daerah kantong, kepada Al-Jazeera. "Pertukaran juga akan melihat era baru kerja sama di antara kedua negara.

"Lebih jauh, kesepakatan itu mendatangkan manfaat besar bagi kedua negara, terutama Bangladesh yang memiliki masalah dengan kekurangan pasokan listrik. Reliance Power dan Adani, dua perusahaan energi India, menandatangani kesepakatan dengan agen listrik milik pemerintah Bangladesh untuk berinvestasi US$5 miliar di sektor tenaga listrik di negara itu.

Bangladesh telah lama menderita kekurangan listrik yang parah. Penawaran melibatkan pembangunan empat pembangkit listrik bertenaga gas yang bertujuan menambah 4.600 megawatt listrik. Dua fasilitas batu bara diharapkan untuk menghasilkan 1.600 megawatt.

Di samping itu, 'Negeri Hindustan' juga menambah kredit sebesar US$2 miliar untuk Bangladesh dan berikut dengan 20 perjanjian lainnya, termasuk layanan bus, pengiriman, dan perdagangan. Itu semua telah ditandatangani.

Mustafizur Rahman, Direktur Eksekutif for Policy Dialogue, mengatakan sejumlah kesepakatan penting yang diraih tersebut mengisyaratkan sebuah era baru dalam hubungan kedua negara.

Kebijakan perluasan kredit sebesar US$2 miliar dilihat Rahman untuk keperluan pembangunan infrastruktur transportasi. Selama satu dekade terakhir, India telah begitu bersemangat untuk mengamankan hak transit melalui timur laut Bangladesh.

"Ini akan membantu memperkuat hubungan bilateral Bangladesh dengan India dalam jangka pendek, sementara juga membantu Bangladesh terhubung dengan Asia Timur dalam jangka panjang," kata Rahman. "Pembangunan infrastruktur tersebut pasti akan sangat membantu bagi Bangladesh." (Al Jazeera/Hym/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya