KORBAN meninggal akibat virus Middle East respiratory syndrome (MERS), kemarin, bertambah satu sehingga jumlah korban meninggal kini mencapai 11 orang. Korea Selatan (Korsel) melaporkan korban meninggal terbaru ialah perempuan berusia 72 tahun yang tertular virus dari pasien di rumah sakit.
Meski begitu, Kementerian Kesehatan Korsel menyebut jumlah kasus baru justru menurun. Per kemarin tercatat empat kasus baru dari sebelumnya 14 pada Kamis (11/6) dan 13 pada Rabu (10/6). Virus dari Arab Saudi itu telah menginfeksi 126 orang di Korsel.
"Jumlah kasus baru turun tajam dan risiko penyebaran virus mulai berkurang. Kami imbau publik untuk menjalani aktivitas seperti biasa," demikian pernyataan Kementerian Kesehatan Korsel.
Hingga kemarin, ada 3.680 pasien yang dikarantina karena diduga terinfeksi MERS. Jumlah tersebut menurun dari 3.805 pada Kamis (11/6). Adapun pasien yang dipulangkan dari karantina mencapai 1.249 termasuk 294 pasien yang dipulangkan kemarin.
Pemerintah Korsel sempat dikritik karena dinilai ceroboh dalam merespons wabah MERS. Karena itu, Rumah Sakit Mediheal di Seoul ditutup hingga 23 Juni mendatang karena dikhawatirkan menjadi sumber infeksi. Selain itu, 52 fasilitas kesehatan, 18 di antaranya di Seoul dan 16 di Provinsi Gyeonggi, telah terpapar virus MERS.
Adapun Rumah Sakit St Mary di Pyeongtaek, yang merupakan rumah sakit pertama tempat 37 pasiennya didiagnosis terinfeksi MERS, juga tutup hingga pekan depan sesuai dengan periode inkubasi penyakit.
Mal, restoran, dan bioskop juga dilaporkan sepi kunjungan karena warga menghindari tempat-tempat keramaian. Dewan Pariwisata Korsel melaporkan lebih dari 54 ribu pelancong asing membatalkan kunjungan ke Korsel hingga bulan ini.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) regional yang berpusat di Manila, Filipina, menyebut pembatasan turis tidak perlu dilakukan. "WHO tidak merekomendasikan larangan bepergian, pun screening di bandara," kata juru bicara WHO Alison Clements-Hunt.
Yang disarankan, lanjut dia, pemerintah harus mampu mengidentifikasi apakah pendatang berasal dari negara tempat MERS beredar secara aktif. "Juga memastikan apakah para pendatang pernah melakukan kontak langsung dengan orang yang terinfeksi virus," imbuhnya.
Kontak langsung, jelas Clements-Hunt, cenderung terjadi di fasilitas kesehatan termasuk rumah sakit. "Mayoritas kasus sejauh ini ditemukan di fasilitas kesehatan dan bukan di tengah-tengah populasi secara umum."
WHO juga menjadwalkan pertemuan darurat untuk membahas MERS, pekan depan, tanpa menyebut tanggal spesifik. "Pertemuan darurat akan memutuskan apakah wabah itu termasuk krisis kesehatan global," kata juru bicara WHO Tarik Jasarevic, di Jenewa, Swiss, kemarin. (AFP/Al Jazeera/Aya/I-1)