Pekerja di Balik Gemerlap Permata

MI
13/6/2015 00:00
Pekerja di Balik Gemerlap Permata
()
MOHAMED Akbar, 10, akhirnya lepas dari pekerjaannya yang penuh risiko di tempat pembuatan batu permata di Jaipur, India.

Leher Akbar tampak masih belepotan warna dari bahan kimia saat dia, bersama 50 anak lainnya, diselamatkan pada Januari lalu. Bahan-bahan kimia memang biasa digunakan dalam pembuatan batu perhiasan di tempat kerjanya.

Karena harus membantu orangtuanya, Akbar terpaksa putus sekolah. "Paman saya membawa saya ke sini (Jaipur) karena dia juga bekerja di industri ini. Saya dapat bayaran 50 rupee (Rp10 ribu) setiap minggu dan keluarga saya mendapatkan bayaran melalui transfer bank. Dulunya saya memang sudah tidak ingin sekolah, tapi sekarang saya ingin (sekolah)," ucap Akbar.

Akbar beserta 50 anak lainnya diselamatkan melalui operasi gabungan antara lembaga nonpemerintah Resource Institute for Human Rights (RIHR) dan unit antiperdagangan manusia Kepolisian Jaipur.

Lingkungan tempat kerja Akbar bersama anak-anak lainnya itu sangat tidak sehat. Tempat kerjanya bertolak belakang dengan tampilan batu permata yang penuh kilau dan glamor serta memesona.

Jaipur, ibu kota Negara Bagian Rajasthan, memang dikenal sebagai pusat ekspor permata, batu perhiasaan yang terkemuka di seluruh India. Batu-batu berharga mahal itu diekspor ke Uni Emirat Arab, Hong Kong, dan Amerika Serikat (AS) dengan nilai ekspor tahun lalu mencapai US$41,8 miliar.

Para aktivis hak anak menyingkap gemerlap industri batu permata justru bagian dari potret rendahnya upah para pekerja. Menurut Amit Mehta, anggota RIHR, pelaku perdagangan manusia yang membawa anak-anak selalu menjanjikan pekerjaan yang menggiurkan. Nyatanya, lanjut dia, "Kondisinya justru amat mengerikan. Mereka bekerja selama 15 jam per hari di ruang bawah gedung dan terpapar bahan-bahan kimia yang bisa membakar kulit."

Menurut sensus 2011, ada lebih dari 1,2 juta anak di Negara Bagian Rajasthan menjadi buruh dengan 50 ribu di antaranya bekerja di Jaipur. (Al Jazeera/Deri Dahuri/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya