BERTEPATAN dengan peringatan Hari Antiburuh Anak Internasional atau International Day Against Child Labour yang jatuh pada Jumat (12/6), Organisasi Buruh Internasional (ILO) kembali menyoroti dan mengkritisi persoalan buruh anak di seluruh dunia.
Di seluruh dunia, lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani masalah anak (UNICEF) mengatakan lebih dari 150 juta anak usia antara lima dan 14 tahun terlibat sebagai pekerja anak. India menjadi tempat dengan jumlah anak pekerja tertinggi di dunia.
ILO mengungkapkan bahwa hampir 170 juta anak muda terjebak dalam pekerja anak. Dalam laporan bertajuk World Report on Child Labour, ILO mengatakan eksploitasi anak-anak di bidang pekerjaan terjadi dalam berbagai bentuk mulai buruh batu bata di India, pemetik kapas di Uzbekistan, pekerja tambang di Ghana, hingga buruh perkebunan gula di Bolivia.
28 juta pekerja anak Di India, menurut data UNICEF, lebih dari 28 juta anak masih menjadi pekerja di berbagai bidang. Padahal, hukum perburuhan anak India memang telah mencantumkan pelarangan anak di bawah usia 14 tahun dipekerjakan di bidang pekerjaan yang berbahaya.
Pada Mei tahun ini, ketimbang mendorong penghapusan menyeluruh bentuk pekerja anak, kabinet pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Narendra Modi justru hanya menyetujui sejumlah amendemen terkait dengan hukum tadi.
"Kami hidup di negara yang sangat normal bagi anak petani untuk membantu bertani setelah jam sekolah atau untuk anak-anak seorang tukang untuk belajar kerajinan. Jadi kami tidak ingin menjadikan itu pekerjaan saat anak-anak menjadi buruh," ungkap seorang pejabat Kementerian Tenaga Kerja India.
"Itulah sebabnya kami dengan jelas menyatakan bahwa bentuk kerja seperti itu tidak akan dihukum. Apabila seseorang melanggar hukum, sistem peradilan akan hadir untuknya," ujar pejabat yang tidak mau disebutkan identitasnya tersebut.
Meskipun telah ada kesepakatan kabinet, tidak berarti rancangan undang-undang (RUU) akan disahkan menjadi peraturan hukum. Pasalnya, sikap pemerintah India tersebut telah mendapatkan reaksi keras.
Lembaga Bachpan Bachao Andolan (BBA), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dipimpin peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2014 Kailash Satyarthi, menyambut persetujuan amendemen RUU tersebut dengan kritis.
"Saat ini, ketika hukum berdiri dengan tegak, anak-anak di bawah usia 14 tahun tidak diizinkan untuk bekerja di hanya 18 jenis pekerjaan dan 65 proses (pembuatan barang) yang dianggap berbahaya," jelas Bhuwan Ribhu, aktivis lembaga BBA.
Sebuah laporan PBB baru-baru ini mengatakan hampir 300 juta orang masih hidup di bawah garis kemiskinan di India. Ribhu menilai kemiskinan telah melanggengkan eksploitasi anak. Selama 35 tahun, lembaga BBA telah menyelamatkan lebih dari 83.500 anak di seluruh India.
Ia mengatakan saat ini banyak orang dewasa yang menganggur di India karena berbagai bidang pekerjaan disesaki anak-anak, bukan orang dewasa. Seakan menutup mata, perusahaan-perusahaan lebih memilih memakai jasa anak-anak demi mendapatkan tenaga kerja murah.
"Perdagangan anak-anak untuk kerja paksa telah menjadi salah satu kejahatan terorganisasi terbesar di dunia dan saya takut hal itu akan terus berlangsung atas nama perusahaan keluarga." (Al Jazeera/The Economic Times/I-3)