TOKOH oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Balai Rakyat Beijing, Tiongkok, Kamis (11/6).
Pertemuan keduanya diharapkan bisa membangun jalur komunikasi yang baik antara pemerintah Tiongkok dan tokoh oposisi paling berpengaruh di Myanmar.
"Tiongkok dan Myanmar memiliki hubungan yang sangat dekat. kami merupakan tetangga yang ramah," kata Jinping, yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok (CPC).
Persahabatan antara Tiongkok dan Myanmar diklaim tidak pernah berubah selama 65 tahun.
Jinping mengatakan, sejak pembentukan hubungan diplomatik dan kerja sama, telah dihasilkan manfaat bagi kedua negara tersebut.
"(Tiongkok dan Myanmar) Telah menjadi sebuah komunitas kepentingan umum yang selalu berbagi suka dan duka," kata Jinping.
Ia mengusulkan bahwa kedua belah pihak terus bekerja sama, dan menghormati persahabatan bilateral dan kerja sama.
"Tiongkok selalu melihat hubungan dengan Myanmar dari perspektif strategis jangka panjang," kata Jinping.
Jinping juga berharap dan percaya bahwa Myanmar akan mempertahankan konsistensi pada hubungan Tiongkok-Myanmar.
"Serta berkomitmen untuk memajukan hubungan persahabatan, tak peduli seperti apa situasi domestik akan berubah nantinya," kata Jinping.
Atas undangan CPC, Suu Kyi melakukan kunjungan pertama ke 'Negeri Tirai Bambu'. Ia akan berada di negara pendukung junta militer Myanmar itu hingga Minggu (14/6).
Di bawah junta militer yang didukung Beijing, Suu Kyi menjalani tahanan rumah selama lebih dari 15 tahun.
Hubungan Suu Kyi yang prodemokrasi dengan Tiongkok sebenarnya tidak terlalu harmonis. Namun. Hal tersebut berubah belakangan ini.
Sejumlah pengamat mengatakan Tiongkok mulai kehilangan pengaruh di Myanmar. Terutama setelah Presiden Myanmar Thein Sein mencoba menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat dan negara-negara lainnya.
"Tiongkok kini menghadapi persaingan pengaruh di Myanmar," kata Alice Ekman, peneliti di Institut Hubungan Internasional Prancis.
Keputusan untuk merangkul Suu Kyi dinilai untuk menjaga hubungan dengan kedua belah pihak melalui pemimpin politik.
"Pergeseran kebijakan ini merupakan kemajuan dan menunjukkan sikap dewasa Beijing pada hubungan dengan rezim otoriter," kata Willy Lam, seorang profesor di Chinese University of Hong Kong.
Menurut laporan koran Beijing Youth Daily China, setelah bertemu Jinping dan sejumlah petinggi CPC, Suu Kyi juga akan melakukan perjalanan ke Shanghai dan Yunnan. (AFP/Fox/I-2)