PEMERINTAH Korea Selatan (Korsel) meyakini bahwa wabah virus sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) yang telah merenggut sembilan orang saat ini telah mencapai klimaks dan segera menuju antiklimaks.
Para pakar kesehatan setempat berpendapat dalam beberapa hari mendatang akan menjadi masa krusial untuk memastikan apakah upaya pemerintah yang terlambat berhasil atau tidak dalam mengatasi wabah MERS.
"Saya memprediksi virus MERS akan mencapai puncaknya pada hari ini dan akan stabil dalam beberapa hari ke mendatang," ujar Menteri Kesehatan Korsel Moon Hyung-pyo, Senin (8/6).
Para pakar Korsel mengatakan beberapa hari mendatang akan menjadi saat-saat yang krusial bagi pemerintah.
Pasalnya hingga saat ini, MERS telah menewaskan sembilan orang serta menginfeksi lebih dari 100 orang.
"Masa inkubasi maksimum bagi mereka yang terinfeksi akan berakhir Jumat (12/6) ini, semoga wabah ini segera melemah," ujar Jacob Lee, dokter spesialis penyakit menular dari Kangnam Sacred Heart Hospital, Seoul, Korsel.
Lee menilai prediksi tersebut bisa saja benar.
Namun, hal tersebut, menurutnya, tergantung pada sejumlah pasien yang masih berada di karantina.
"Apakah mereka positif terinfeksi atau tidak?" tambahnya.
Terbesar di luar Saudi Wabah MERS di 'Negeri Ginseng' merupakan kasus yang terbesar yang terjadi di luar wilayah Arab Saudi, lokasi asal penyebaran virus tersebut.
Kasus MERS ditemukan pertama kali di Korsel pada 20 Mei silam.
Korban pertama yang terinfeksi ialah seorang pria berusia 68 tahun. Pria tersebut diduga terinfeksi virus ketika melakukan perjalanan ke Arab Saudi dan beberapa negara lainnya di Timur Tengah.
Ketika kembali ke Korsel, kondisi kesehatan pria itu memburuk dan ia memeriksakan diri ke sejumlah rumah sakit.
Tanpa disadari, virus yang menginfeksi pria 68 tahun itu telah menulari sejumlah pasien dan staf medis di beberapa rumah sakit.
"Pasien MERS pertama itu telah mengunjungi tiga rumah sakit berbeda di Korsel, hingga akhirnya dirawat dan dinyatakan mengidap MERS di Samsung Medical Center, Seoul, Korsel," jelas seorang pejabat dari Kementerian Kesehatan Korsel yang tidak mau disebutkan identitasnya.
"Pada awal pemeriksaan, dia tidak mengatakan baru saja melakukan perjalanan dari Arab Saudi," tambah pejabat itu. Setelah pria itu dinyatakan positif terinfeksi virus MERS, pemerintah baru memeriksa sejumlah orang yang diduga terinfeksi.
Selanjutnya, orang-orang itu dikarantina.
Penyakit MERS hingga kini belum ditemukan obatnya. Angka kematian yang diakibatkan virus MERS mencapai 40%.
Kini dengan terus bertambahnya korban meninggal akibat MERS, masyarakat Korsel panik dan mengritik kinerja pemerintah yang dinilai gagal.
Dari Hong Kong, seorang wanita dilarikan ke sebuah rumah sakit, kemarin.
Dengan demam dan pilek, perempuan itu diduga terjangkit virus MERS.
"Pusat perlindungan kesehatan menerima laporan seorang wanita berusia 22 tahun yang diduga terinfeksi MERS," jelas Badan Kesehatan Tiongkok dalam sebuah pernyataan. (AP/AFP/I-3)