Kolaborasi Dua Korea demi Sejarah dan Budaya

MI/WENDY MEHARI UTAMI
09/6/2015 00:00
Kolaborasi Dua Korea demi Sejarah dan Budaya
(THINK STOCK)
PADA Kamis (4/6) lalu, Korea Utara dan Korea Selatan menandai dimulainya ekskavasi gabungan di situs bersejarah Manwoldae di Kaesong yang termasuk wilayah Korut.

Sebuah acara seremonial digelar dan dihadiri sejumlah pejabat dan sejarawan dari kedua Korea.

Ya, kali ini bukan perseteruan atau saling tuding yang menjadi berita tentang kedua Korea. Tim periset Korut dan Korsel bergabung di Manwoldae dalam proyek kerja sama kedua negara yang secara teknis masih dalam kondisi perang sejak konflik pada 1950-1953.

Sejarawan dan arkeolog dari Korsel telah memasuki Kota Kaesong di Korut sejak Rabu (3/6) untuk memulai pekerjaan ekskavasi. Harapannya, proyek gabungan itu akan membangun kesadaran akan sejarah yang sama bagi dua Korea.

"Sejak perpecahan pada 1945, ini merupakan kali pertama tim dari Selatan dan Utara bekerja bersama-sama di tempat yang sama selama 40-60 hari dalam setahun. Sebelum ini, ada ketegangan antara ilmuwan Selatan dan Utara akibat perbedaan metodologi, tapi kami berada dalam wadah dan tujuan yang sama untuk ekskavasi ini," demikian pernyataan proyek gabungan itu.

Pejabat Seoul, Korsel, menyebut sekitar 80 sejarawan dan arkeolog Korsel akan bekerja di Kaesong, Korut, selama enam bulan ke depan.

Proyek gabungan itu sebenarnya dimulai pada 2007 tapi kerap terkendala situasi yang naik-turun dalam relasi antar-Korea. Tahap ekskavasi terakhir kali dilakukan pada Juli tahun lalu tapi itu pun hanya selama sebulan.

Semenjak 2007 itu, kedua Korea juga telah menjalankan enam tahap ekskavasi gabungan di Manwoldae.

Untuk tahun ini, proyek ekskavasi akan berjalan selama enam bulan hingga 30 November mendatang. Ini merupakan periode ekskavasi paling lama dengan jumlah tim terbanyak yang dilakukan kedua Korea secara bersama-sama sejak proyek itu dimulai pada 2007.

Pelestarian
Bulan lalu, Kementerian Unifikasi Korea Selatan menegaskan pentingnya menyadari dasar persamaan di antara kedua Korea, terutama lewat olahraga, budaya, termasuk ekskavasi gabungan di situs-situs bersejarah.

Sekretaris Jenderal Dewan Sejarawan Korsel-Korut Shin Joon-young menyatakan, "Proyek ini bertujuan membangun kesadaran historis kedua Korea. Unifikasi tidak akan sempurna jika kedua pihak tidak memiliki kesadaran historis yang sama.''

Menurutnya, ekskavasi gabungan itu sudah didiskusikan sejak 2005 dan dimulai pada 2007. "Korut telah mengakui pentingnya ekskavasi jangka panjang tapi kami sempat kesulitan mendapatkan izin dari pemerintah Korsel. Anggaran untuk proyek ini berkurang setelah perubahan pemerintah pada 2008," ucap Shin.

Dewan Sejarawan Korsel-Korut memiliki 300 anggota termasuk profesor dan periset yang berminat pada komunikasi historis antar-Korea. Satu atau dua kali setahun, sejak 2001, Dewan Sejarawan Korsel-Korut itu juga menggelar seminar-seminar akademis gabungan di Pyongyang dan Gunung Kumgang, Korut.

Dalam majalah Archaeology yang dipublikasikan lembaga nonprofit Archaeological Institute of America disebutkan, Korut dan Korsel sama-sama memandang kolaborasi ekskavasi situs bersejarah itu merupakan cara untuk melestarikan sejarah mereka yang sama.

Proyek itu juga disebut menjadi peluang bagi Korut untuk dapat menerapkan teknologi bidang arkeologi yang sebelumnya sulit dilakukan akibat kondisi ekonomi.

Warisan dunia
Situs Manwoldae bisa dicapai dengan berkendara mobil selama 10 menit dari pusat Kota Kaesong yang merupakan kawasan industri. Wilayah yang sekarang merupakan Kaesong itu ialah ibu kota Korea pada masa Dinasti Goryeo (935-1392)--juga ditulis 'Koryo'.

Sejak 2013, situs Manwoldae masuk daftar Warisan Dunia UNESCO dan disebut sebagai kota kuno yang meliputi istana, institusi, dan kompleks makam, juga gerbang dan dinding pertahanan.

UNESCO juga menyebut Manwoldae mencerminkan nilai-nilai politik, budaya, filosofi, dan spiritual wilayah Korea.

Pada laman UNESCO, situs Manwoldae tercatat mencakup wilayah seluas 494 hektare dan meliputi 12 komponen terpisah, termasuk istana, kompleks makam, institusi, gerbang, dan dinding pertahanan.

Situs bersejarah itu, menurut penjelasan UNESCO, menunjukkan transisi dari Buddhisme menjadi neo-Konfusianisme di Asia Timur, sekaligus asimilasi budaya spiritual dan nilai politik wilayah-wilayah yang eksis sebelum unifikasi Korea di bawah kekuasaan Dinasti Goryeo.

Dalam tahap ekskavasi gabungan tahun ini, separuh situs Manwoldae dijadwalkan akan digali, dengan fokus penggalian pada Manryeong-jeon atau kamar tidur raja.

Menurut John Grisafi, direktur media NK News untuk bagian berita intelijen, proyek gabungan ekskavasi itu merupakan proyek penting karena beberapa alasan.

Pertama, kata Grisafi, "Karena proyek-proyek yang berkaitan dengan sejarah Korea akan menjadi kesempatan baik bagi Korsel maupun Korut untuk bekerja sama, menjalin kolaborasi. Bagaimanapun, keduanya memiliki warisan sejarah yang sama.

"Alasan kedua, lanjut Grisafi, "Proyek ini menjadi penting terutama untuk pelestarian dan penelitian situs-situs arkeologi di Korut. Apalagi banyak cerita beredar yang menyebut benda-benda peninggalan bersejarah di sana banyak dijarah akibat situasi ekonomi yang sulit." (The Guardian/Yonhap/Archaeology News Network/NK News/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya