PESAWAT terbang bertenaga surya pertama di dunia, Solar Impulse 2, mengalami kerusakan di bagian sayap dan harus diperbaiki di Jepang. Pesawat yang sedang menjalankan misi keliling dunia itu harus diistirahatkan selama seminggu di sana.
Kerusakan terjadi saat pesawat menempuh rute perjalanan dari Tiongkok ke Hawaii, Amerika Serikat. Rute tersebut, sepanjang 8.500 kilometer, merupakan rute paling panjang yang akan dijalani pesawat bertenaga surya pertama di dunia itu.
Dalam upaya menyelesaikan rute itulah pusat kendali misi memerintahkan Solar Impulse 2 untuk mengalihkan penerbangan ke Nagoya, Jepang, Senin (1/6), karena terlihat awan es di atas Samudra Pasifik yang menghalangi jalur pesawat untuk menuju ke kepulauan AS tersebut.
Hembusan angin dalam perjalanan rute Tiongkok-Hawaii itu juga merusak aileron kiri, yakni bagian yang berperan menjaga stabilitas sayap bagian kiri.
"Perbaikan akan memakan waktu sekitar satu minggu," kata Andre Borschberg, pilot Solar Impulse 2, di Nagoya, Jepang, Rabu (3/6).
Untuk mereparasi pesawat, tim mekanik harus mendatangkan beberapa suku cadang dari Swiss. "Setelah itu mungkin kita akan siap melanjutkan perjalanan dan mudah-mudahan dapat mencapai Hawaii dengan sukses," tambah Borschberg.
Dalam rekaman yang diunggah di situs proyek Solar Impulse 2, inisiator misi Bertrand Piccard menyatakan paparan pada elemen sayap merupakan cikal bakal masalah dan kerusakan.
"Sebelum tim di Bandara Nagoya bisa mendirikan hanggar sementara, sayap pesawat harus dilindungi dari hujan dan matahari. Ada begitu banyak angin dan hembusan sehingga sayap mulai bergetar dan merusak aileron yang terletak pada ujung sayap," jelas Piccard.
Setelah tim mekanik selesai memperbaiki aileron, pilot Borschberg akan menerbangkan Solar Impulse 2 keluar dari Nagoya menuju Hawaii dalam perjalanan yang diperkirakan menempuh lima hari.
Setelah Hawaii, Solar Impulse 2 dijadwalkan terbang menuju daratan AS sebelum menyeberangi Atlantik dalam perjalanan kembali ke titik awal di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Misi penerbangan Solar Impulse 2 yang dimulai Maret lalu itu bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap energi baru terbarukan. (AFP/Fox/I-1)