Takut MERS, 900 Sekolah Tutup

MI
05/6/2015 00:00
Takut MERS, 900 Sekolah Tutup
(AP/Park Ji-ho)
RATUSAN sekolah di Korea Selatan, kemarin, ditutup saat para pejabat berjuang untuk meredakan kepanikan warga atas mewabahnya virus Middle East respiratory syndrome (MERS) yang telah menginfeksi 35 orang, menewaskan dua orang, dan memaksa ribuan orang lainnya membatalkan rencana perjalanan mereka.

Lebih dari 900 sekolah, dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hinga perguruan tinggi, sekarang telah menghentikan aktivitas belajar-mengajar dalam menanggapi kekhawatiran publik terhadap wabah MERS yang terbesar di luar wilayah Arab Saudi.

Setidaknya lima kasus telah dikonfirmasi pada Kamis (4/6) sehingga jumlah infeksi yang tercatat ialah 35 orang, Menurut Kementerian Kesehatan Korsel, kasus pertama, dilaporkan pada 20 Mei, adalah seorang pria 68 tahun yang didiagnosis setelah melakukan perjalanan ke Arab Saudi.

Sejak itu, lebih dari 1.660 orang diprediksi telah terpapar langsung atau tidak langsung terhadap virus tersebut. Mereka telah ditempatkan di bawah berbagai tingkat karantina.

Kecemasan publik akibat MERS terus meluas. Organisasi Pariwisata Korea (KTO) melaporkan bahwa ada sekitar 7.000 wisatawan, sebagian besar dari Tiongkok dan Taiwan, telah membatalkan rencana perjalanan ke Korsel.

"Pembatalan massal dalam skala ini sangat tidak biasa dan banyak wisatawan mengatakan wabah MERS sebagai alasan utama," kata seorang juru bicara KTO.

Pemerintahan Presiden Park Geun-hye dan pejabat kesehatan secara umum, telah dikritik karena dianggap terlalu lambat merespons wabah awal. Dalam pertemuan darurat dengan para pejabat kesehatan, Rabu (3/6), Park menyerukan 'usaha sepenuhnya' untuk mengekang penyebaran virus dan meredakan ketakutan publik.

Sementara di Indonesia, Kementerian Kesehatan melakukan kebijakan pengetatan cegah tangkal di semua pintu masuk bandara dan pelabuhan internasional terkait MERS.

"Kita perintahkan petugas KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) untuk waspada. Pasalnya, letak Korsel tergolong cukup dekat dengan kita," ujar Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, M Subuh, kemarin.

"Kalau ada penumpang yang menunjukkan gejala demam dengan panas di atas 38 derajat celsius, petugas harus segera melakukan karantina dan pengecekan," tambah dia. (AFP/Hym/Tlc/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya