Menantang Gelombang Panas demi Kebutuhan Keluarga

MI/(AP/ Aljazeera/Indiatimes/Pra/I-3)
31/5/2015 00:00
Menantang Gelombang Panas demi Kebutuhan Keluarga
(AFP)
TERIK matahari sangat menyengat dalam dua pekan terakhir di wilayah India. Bahkan temperaturnya menyentuh 48 derajat celsius. Sejumlah sumber air kering kerontang. Tanaman-tanaman di kawasan pertanian turut layu terancam gagal panen. Gelombang panas yang melanda 'Negara Hindustan' itu ibarat monster. Hingga kemarin, kondisi cuaca yang tak bersahabat tersebut telah merenggut nyawa 1.826 orang. Sunder, 38, seorang warga Kota Gurgaon, pun sangat menyadari
betapa bahaya sengatan matahari.

Temperatur yang tinggi bisa menyebabkan kematian. Sebagian rekan kerjanya telah menjadi korban teriknya matahari. Demi keselamatan, sebagian besar warga memilih tinggal di dalam rumah. Tapi apa daya, bagi Sunder yang hanya kuli bangunan di Gurgaon, sebuah distrik elite Negara Bagian Haryana dengan  sebutan Millennium City.

"Kami tidak bisa berdamai dengan gelombang panas. Kami mempunyai anak yang harus dibesarkan dan diberi makan. Kalau tidak, mereka mau makan apa?" ucap Sunder. Sebagai kepala keluarga, Sunder harus memanggul tanggung jawab sekaligus menantang maut demi kelangsungan hidup keluarganya. Tak hanya itu, suhu yang membakar dan membuat kepala pening itu juga telah menambah derita putri dan istrinya.

Selama bekerja sebagai buruh bangunan, Sunder bersama putri dan anaknya pun harus tinggal seadanya di sekitar konstruksi yang sedang dibangun. Dengan kondisi itu, putri dan istri Sander pun sama-sama berada di bawah bayang-bayang sang maut. Nasib Ijaz Ul Miyan, seorang buruh tani di pinggiran Kota  Gurgaon, setali tiga uang dengan Sander. Kendati risiko kematian mengancam, demi memenuhi kebutuhan hidup anakistrinya, Ijaz pun tidak peduli.

"Kemarin saya merasa pusing dan muntah karena panas. Beberapa teman saya sudah mengambil cuti. Tiga orang sedang beristirahat di kamar mereka hari ini," tutur Ijaz. Nasib Ijaz sedikit beruntung. Pasalnya sang majikannya masih mengizinkan Ijaz bekerja lebih pagi. Dia diberi keringanan pulang saat hari dengan suhu tengah memuncak. Jelang sore bersamaan suhu menurun, dia dapat kembali ke lahan pertanian majikannya. Gelombang panas tidak semata menjadi sang pencabut nyawa bagi warga India yang mendekati angka 2.000 orang. Seekor singa di Kebun Binatang Tirupati, Negara Bagian Andhra Pradesh, dilaporkan mati. Puluhan merak juga ditemukan mati di kawasan hutan Distrik Medak.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya