PEMERINTAH India mendesak seluruh rumah sakit bersiaga untuk menangani korban gelombang panas secara intensif. Hingga kemarin, jumlah korban meninggal akibat suhu tinggi itu telah mencapai 1.800 orang. Dengan jumlah tersebut, serangan gelombang panas menjadi bencana yang paling parah dalam dua dekade terakhir. Sebenarnya, setiap tahun, wilayah India dilanda gelombang panas saat kemarau datang dengan korban tewas ratusan orang. Sebagian besar korban tewas dilaporkan terdapat di Negara Bagian Andhra Pradesh dan Telangana.
Para dokter mengatakan rumah-rumah sakit yang berada di dua wilayah negara bagian itu dipenuhi para pasien akibat suhu panas yang hampir mendekati 48 derajat celsius. Di Andhra Pradesh, wilayah terparah yang dilanda gelombang panas, tercatat 1.100 orang tewas sejak 18 Mei lalu. Jumlah korban tersebut melonjak dua kali lipat jika dibandingkan dengan peristiwa serupa pada tahun lalu. P Tulsi Rani, Komisaris Khusus Penanggulangan Bencana Andhra Pradesh, mengatakan tingginya angka kematian telah mencatat rekor terbaru.
"Begitu banyak yang meninggal tahun ini karena gelombang panas berlangsung dalam waktu yang lebih lama dari biasanya," kata Rani. Rani mengatakan, hingga saat ini, bencana gelombang panas telah menginjak hari kedelapan. Adapun sebelumnya tidak pernah lebih dari sepekan. Dengan rentang waktu gelombang panas lebih panjang, jumlah korban meninggal pun lebih banyak.
Bisnis AC laku Dari Negara Bagian Tela-ngana, dilaporkan suhu udara mencapai 48 derajat celsius sejak akhir pekan lalu. Sebanyak 340 orang dilaporkan meninggal dunia. Jumlah tersebut naik 10 kali lipat jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya menewaskan 31 orang. Pihak berwenang di wilayah Telangana mengatakan mereka telah memberi informasi di media-media massa untuk memberi tahu masyarakat agar tetap tenang dan memahami gejala penyakit yang disebabkan gelombang panas.
Di negara bagian lainnya, Hyderabad, jalan-jalan dilaporkan sepi selama beberapa hari terakhir. Suhu di atas jalanan aspal dilaporkan jauh lebih tinggi ketimbang jalanan tak beraspal. Suhu panas telah pula mengganggu aktivitas perdagangan. Di sisi lain, bencana gelombang panas tersebut menjadi berkah bagi para penjual dan penyewa alat pendingin udara (AC). Syed Samad, yang memiliki bisnis penyewaan pendingin udara, mengatakan ia mendapatkan pendapatan lebih banyak. \ "Kami menyewakan AC. Kami mengenakan biaya sewa sebesar 50 rupee (Rp10 ribu) per hari dengan kontrak bulanan," ujar Syed. "Tahun ini, bisnis yang kami jalankan sangat luar biasa. "Jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Semua unit kami telah disewakan sepanjang April dan Mei," lanjutnya. Pemerintah New Delhi menganggap bencana kali ini sebagai kasus darurat.
Otoritas setempat memerintahkan seluruh rumah sakit untuk mengobati korban gelombang panas. "Hal utama yang harus dilakukan ialah pencegahan," kata Charan Singh, Direktur Kesehatan Masyarakat Delhi. Sementara itu, musim hujan diperkirakan baru akan mulai berlangsung pada 30 Mei mendatang di Negara Bagian Kerala. Namun, wilayah di India yang paling gersang saat ini diperkirakan baru akan mendapatkan hujan seminggu kemudian. Lembaga prakiraan cuaca AccuWeather memperingatkan kemarau kali ini lebih panjang. "Di sejumlah wilayah India akan turun hujan, tetapi kekeringan akan panjang dan berdampak pada pertanian," tukas Jason Nicholls, pakar cuaca dari AccuWeather.