MYANMAR harus bertanggung jawab terhadap etnik Rohingya dengan memperbaiki kehidupan mereka agar tidak lagi mencari penghidupan yang lebih baik di negara lain. Demikian kata Wakil Menlu AS, An tony J Blinken, seusai diskusi bertajuk Civil Society Youth Leadership and Democracy in South East Asia di @america, Pacific Place, Jakarta, kemarin. "Saya akan bertemu pemimpin dan tokoh masyarakat Myanmar pada 21-22 Mei. Kondisi di Rakhine, wilayah etnik Rohingya, sudah tidak kondusif sehingga mereka terpaksa mengarungi lautan ke luar dari Myanmar. Selain Rohingya, saya juga menyoroti pengungsi Bangladesh agar bisa kembali ke negaranya," kata Blinken.
Blinken menambahkan pengungsi Rohingya dan Bangladesh kini sudah menjadi masalah negara-negara di kawasan Asia Tenggara. "Saya mengapresiasi langkah Indonesia menyelamatkan dan menampung mereka sementara di Aceh." Etnik Rohingya terpaksa melarikan diri ke luar Myanmar karena mengalami kekerasan dan diskriminasi dari pemerintah dan warga. Pemerintah Indonesia memutuskan menerima untuk sementara waktu sekitar 1.700 pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang datang secara bergelombang ke Provinsi Aceh sejak Minggu (10/5).
Bantuan setahun Menurut Wapres Jusuf Kalla, peme rintah akan membangun penampung an dan menyuplai kebutuhan sehari-hari para pengungsi selama setahun. "Pemerintah tidak menanggung sendiri," ujar Kalla seusai menerima perwakilan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Thomas Vargas dan Gubernur Aceh Zaini Abdullah untuk membahas pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin. Dari total sekitar 1.700 pengungsi, lanjut Kalla, 700 di antaranya berasal dari Bangladesh.
Pengungsi asal Bangladesh memiliki motif ekonomi, sedangkan etnik Rohingya terusir dari negaranya. "Pengungsi Bangladesh harus kembali (ke negaranya)." Dalam pertemuan para Menlu ASEAN di Kuala Lumpur, kemarin, Malaysia dan Indonesia sepakat untuk menampung imigran tersebut. "Kami sepakat menawarkan penampungan sementara hingga proses permukiman dan pemulangan selama satu tahun mendatang," ungkap Menlu Malaysia Anifah Aman dengan didampingi Menlu Indonesia Retno Marsudi.
Di sisi lain, Myanmar melunakkan kebijakannya terhadap etnik Rohingya dengan menawarkan bantuan kemanusiaan kepada negara penampung. Dari Aceh kemarin dilaporkan sebanyak 433 imigran Rohingya dan Bangladesh terdampar di perairan Kuala Geuleumpang, Kecamatan Julok, Aceh Timur, sekitar pukul 02.00 WIB. "Sebanyak 46 orang perempuan dan 44 balita," tandas seorang nelayan Teuku Nyak Idrus.