Wan Azizah Pimpin Oposisi

MI/Haufan Hasyim Salengke
19/5/2015 00:00
Wan Azizah Pimpin Oposisi
()
KETUA Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang juga istri mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail, dilantik menjadi pemimpin oposisi di parlemen negeri jiran tersebut, kemarin, setelah memenangi kursi yang ditinggalkan oleh suaminya itu akibat dipenjara atas kasus dugaan sodomi. Pelantikan itu menjadikan Wan Azizah sebagai pemimpin oposisi Malaysia untuk kedua kalinya setelah memegang jabatan yang sama di Dewan Rakyat dari Maret hingga 31 Juli 2008. Pada awal bulan ini, anggota parlemen dari daerah Permatang Pauh itu berhasil memenangi pemilihan untuk menduduki kursi yang ditinggalkan Anwar. Indikasi Wan Azizah bakal menjadi pemimpin oposisi sudah terbaca sejak Jumat (15/5) saat ia dilaporkan berhasil meraih dukungan penuh dari tiga sekutu Pakatan Rakyat (PR).

Ia mengatakan merasa terhormat disokong PKR dan dua mitranya di koalisi, yaitu Partai Islam Se-Malaysia (PAS) dan Democratic Action Party (DAP). Pascapelantikan, Wan Azizah mengatakan ada tiga agenda utamanya. Salah satunya membentuk kabinet bayangan. Kabinet bayang-an, yang merupakan ide yang diperdebatkan sebelumnya tapi gagal terwujud karena tak ada titik temu, menurut dia akan berfungsi sebagai inisiatif pengawasan yang efektif dalam membantu menjaga kepentingan publik. "Sebagai permulaan, (saya akan) membentuk Kabinet Pakatan Rakyat (PR), kabinet bayangan yang setiap kementerian akan diwakili salah satu anggota parlemen dari partai masing-masing," tegasnya. Intinya, lanjut Wan Azizah, "Untuk memperkuat check and balance demi kepentingan rakyat."

Terbelah
Dokter lulusan Irlandia itu menyatakan 'menyehatkan' kembali hubungan antarpihak yang bertikai di PR juga menjadi agenda utamanya. Tugas itu akan ia lakukan melalui pendekatan 'hati ke hati'. Ia akan berbicara dengan semua anggota sesuai kesepakatan yang dicapai dalam Kerangka Kebijakan Bersama (CPF). Koalisi oposisi terbelah akibat pertengkaran internal yang dipicu upaya PAS yang ingin menerapkan hukum hudud, yakni bagian dari hukum syariah Islam di negara bagian yang mereka kuasai, Kelantan. Hukuman yang mencakup amputasi bagi kasus pencurian dan rajam sampai mati untuk perzinaan tersebut dinilai dapat meregangkan hubungan multietnik di negara itu.

PAS juga mengajukan amendemen untuk memperkenalkan hukum hudud di Kelantan. Langkah itu dinilai akan mengancam aliansi oposisi Malaysia, PR, yang sedang dalam kondisi tidak solid akibat sang pemimpin, Anwar Ibrahim, kembali mendekam dalam tahanan. Di lingkup yang lebih luas, Wan Azizah mengatakan akan mendorong lembaga parlemen lebih profesional dan terbuka dalam bidang penganggaran. Untuk itu, istri Anwar tersebut akan mendesak dibentuknya komite fiskal atau anggaran di parlemen. "Idenya ialah untuk membuat transparansi dan akuntabilitas sebagai landasan untuk pemerintahan yang baik," tegasnya. (AFP/Today Online/The Straits Times/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya