Myanmar Tolak Bahas Rohingya

18/5/2015 00:00
Myanmar Tolak Bahas Rohingya
( AFP/ROMEO GACAD)
THAILAND mengusulkan digelar pertemuan kerja sama untuk membahas krisis imigran yang semakin memburuk termasuk masalah etnik muslim Rohingya asal Myanmar di wilayah Asia Tenggara pada 29 Mei menda­tang.

Namun, pemerintah Myanmar menolak untuk menghadiri pertemuan tersebut. Myanmar menilai persoalan imigran Rohingya bukanlah masalah mereka. Masyarakat etnik Rohingya yang melarikan diri akibat serangan kelompok radikal Buddha bukanlah warga negara Myanmar.
     
Juru bicara Kantor Kepresidenan Myanmar, Zaw Htay, mengatakan pemerintah Myanmar tidak akan hadir dalam pertemuan jika masalah imigran etnik Rohingya menjadi salah satu agenda pertemuan. Dia memandang negara-negara lain telah menyalahkan Myanmar terkait dengan imigran Rohingya.

Presiden Myanmar Thein Sein menyatakan persoalan imigran Rohingya bukanlah tanggung jawab Myanmar. Namun, pada Sabtu (16/5), Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak mengatakan pihaknya tetap akan meminta bantuan dari Myanmar untuk mengatasi permasalahan imigrasi tersebut.

Malaysia, Indonesia, dan Thailand kini tengah berada di bawah tekanan untuk menyelamatkan para imigran Rohingya yang kelaparan dan tidak dari Myanmar serta imigran asal Bangladesh. "Kami berusaha untuk bekerja sama dengan pemerintah Myanmar untuk mendapatkan tanggapan mereka," ujar Najib Razak.

"Saya harap mereka akan memberikan respons positif kepada para imigran yang sekarang mengungsi di beberapa negara di Asia Tenggara. Ini merupakan masalah internal yang tidak bisa kita ganggu. Namun, kita harus melakukan sesuatu sebelum semua semakin memburuk," imbuhnya.

Kerja sama dengan Myanmar dianggap sangat penting untuk memecahkan permasalahan imigran yang saat ini memburuk. Para imigran Rohingya telah mengarungi laut lepas dan berisiko meninggal. "Mereka juga saling bunuh dan melemparkan orang-orang dari kapal," kata AKB Sunarya, Kapolres Kota Langsa, Banda Aceh, Indonesia.

Muhammad Koyes, seorang imigran asal Bangladesh, mengatakan para imigran harus berkelahi untuk mendapatkan makanan selama di atas kapal. "Ketika kami meminta makanan, kaum Rohingya malah memukuli kami. Orang-orang Bangladesh tidak sekuat mereka, kami tidak bisa melawan," papar Koyes.

Bencana kemanusiaan tersebut membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Amerika Serikat (AS) membuka suara dan mendesak negara-negara Asia Tenggara dapat memberikan tempat untuk para imigran tersebut.

"Menteri Luar Negeri (John Kerry) telah meminta Thailand untuk menyediakan penampungan sementara bagi mereka," ujar juru bicara Deplu AS Jeff Rathke, Jumat (15/5). (AFP/Pra/FD/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya