PEMBERONTAK Syiah Houthi dan tentara koalisi pimpinan Arab Saudi sama-sama menembakkan artileri berat dan roket secara intensif di wilayah perbatasan, Senin (11/5), sehari menjelang kesepakatan gencatan senjata kemanusiaan di antara kedua pihak. Houthi mengatakan telah menembakkan roket-roket Katyusha dan mortir ke dua kota Arab Saudi, yaitu Jizan dan Najran. Serangan tersebut, yang menjadi kali kedua menyasar wilayah Riyadh secara langsung, dilancarkan setelah militer koalisi membombardir posisi Houthi di Provinsi Sa'ada dan Hajjah dengan lebih dari 150 roket.
Distrik Sa'ada di Provinsi Sa'ada yang terletak di selatan Yaman terkenal sebagai kota yang nyaman dan penduduknya ramah terhadap orang asing. Namun, Houthi, yang memulai peperangan di kota itu, membuat reputasi kota tersebut menjadi buruk dan tidak bisa dikunjungi turis. Selain di dua provinsi itu, jet-jet tempur Saudi menargetkan posisi pemberontak Houthi di pusat Kota Taiz dan Provinsi Marib di timur Ibu Kota Sana'a. Sejauh ini, belum ada laporan detail tentang kerusakan dan korban akibat aksi 'jual-beli' serangan itu.
Pada Minggu (10/5), juru bicara militer koalisi Brigadir Jenderal Ahmed al-Assiri mengatakan empat roket Ka-tyusha menghantam sebuah rumah di wilayah perbatasan Saudi, Najran. Serangan tersebut melukai empat perempuan. Pekan lalu serangan serupa menewaskan beberapa orang di wilayah perbatasan. Al-Assiri mengatakan pasukan koalisi akan terus menggempur pemberontak Houthi di wilayah perbatasan hingga proposal gencatan senjata selama lima hari berlaku efektif mulai pukul 23.00 pada Selasa (12/5). "(Serangan bakal terus dilakukan) jika mereka (pemberontak) terus menembakkan roket ke kota dan rakyat kami," ujarnya. "Pemberontak semacam itu harus dinilai dari tingkah laku mereka, bukan dari apa yang mereka katakan di media. Mari kita lihat hingga Selasa pukul 23.00," imbuhnya.
Gencatan senjata Arab Saudi mengumumkan proposal gencatan senjata, Jumat (8/5), setelah lebih dari enam pekan melancarkan operasi sejak 26 Maret lalu terhadap Houthi. PBB telah menyerukan berulang kali untuk gencatan senjata. Pertempuran sudah menewaskan lebih dari 1.400 orang, banyak dari mereka warga sipil, dan 300 ribu lainnya mengungsi. Upaya gencatan senjata tampaknya bakal terealisasi karena pihak pemberontak mengatakan akan menanggapi positif seruan itu.
Yang dimaksud sekutu oleh Houthi itu amat mungkin tentara yang masih loyal terhadap Ali Abdulah Saleh, mantan presiden yang dilesengserkan protes rakyat. Pasukan pemberontak, yang membantu pemberontak Syiah Houthi merebut banyak wilayah Yaman, mengatakan mereka telah sepakat untuk gencatan senjata mulai Selasa (12/5), seperti yang ditawarkan Riyadh. Para pemberontak tidak merujuk secara eksplisit tawaran Saudi, tapi menyatakan 'kesiapan untuk merespons positif dengan upaya apa pun langkah-langkah yang akan membantu mengakhiri penderitaan di Yaman'.