Mengirim Jiwa ke Pangkuan Tuhan

AFP/Wendy Mehari Utami/I-2
07/5/2015 00:00
Mengirim Jiwa ke Pangkuan Tuhan
(AP/BERNAT ARMANGUE)
SUDAH 30 tahun Khadga Adhikari, 55, bertugas menyiapkan kremasi jenazah di Kuil Pashupatinath, Kathmandu, Nepal.

Selama 10 hari terakhir, jumlah jasad yang dia siapkan untuk ritual kremasi sudah melebihi jumlah jasad yang dia siapkan selama sebulan penuh sebelum gempa Nepal melanda pada Sabtu (25/4).

"Saya tidak terlalu ingat orang-orang yang saya kremasi. Namun, ketika ada jasad anak-anak, sungguh, hati saya terasa amat pedih," tutur Adhikari, kemarin.

Pada malam setelah gempa mengguncang Nepal, Adhikari sudah harus mengkremasi tiga anak termasuk satu yang baru berusia 6 tahun.

Dia bergidik mengingatnya.

"Sungguh menyedihkan menyaksikan anak kecil meninggal akibat bencana. Hati saya bagai teriris-iris," ucap dia.

Lalu pada pagi-pagi buta keesokan harinya, Adhikari juga sudah mengkremasi dua lagi jasad anak dan beberapa orang dewasa.

Dia bersama 26 petugas kremasi di Kuil Pashupatinath pun mesti bergegas membersihkan pelataran tempat kremasi supaya bisa langsung digunakan untuk kremasi jasad berikutnya.

Malam itu, Adhikari mengaku, merupakan malam terberat sepanjang hidupnya.

"Saya sedih melihat para kerabat yang berduka. Saya juga merasa amat lelah, sepertinya tenaga saya menguap bersama dengan mengepulnya asap ke udara," tutur Adhikari.

Asap dari tumpukan kayu bakar yang digunakan sebagai alas jasad saat kremasi seakan tidak berhenti mengepul sejak gempa berskala 7,8 pada skala Richter itu terjadi.

Sejak itu pula, ratusan jenazah telah dikremasi di Kuil Pashupatinath di tepian Sungai Bagmati.

Biasanya kerabat jenazah harus membayar 2.000 rupee (sekitar Rp260 ribu) untuk setiap jasad yang dikremasi, termasuk untuk membeli kayu bakar.

Namun, mengingat dahsyatnya gempa yang menewaskan lebih dari 7.500 orang itu, pemerintah Nepal menggratiskan kremasi.

Selain di Kuil Pashupatinath, ritual pembakaran jenazah juga dilakukan di berbagai kuil di sejumlah desa di Nepal.

Korban-korban gempa yang tidak teridentifikasi dikremasi secara massal.

Menurut tradisi Hindu di Nepal, kata Adhikari, Kuil Pashupatinath diyakini sebagai tempat suci.

Siapa pun yang dikremasi di sana diyakini pasti masuk surga. Jadi, ucap Adhikari,

"Tugas saya ini seperti mengirim jiwa-jiwa manusia ke pangkuan Tuhan."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya