Tamang Selamat dari Dua Gempa Hebat

AFP/Fox/X-8
05/5/2015 00:00
Tamang Selamat dari Dua Gempa Hebat
Funchu Tamang, 101, duduk di tempat tidur rumah sakit di Distrik Nuwakot, sekitar 80 kilometer dari Kathmandu, Nepal, Minggu (3/5).(AFP/STR)

SAAT rumahnya roboh dan batu besar menimpa dadanya, Funchu Tamang mengira hidupnya sudah berakhir. Kakek berusia 101 tahun itu ternyata pernah selamat dari gempa besar di Nepal delapan dekade silam.

Pada gempa Nepal Sabtu (25/4) itu pun ia masih diberi kesempatan untuk hidup lebih lama. Tamang diterbangkan dengan helikopter pada Sabtu (2/5) dengan luka di dada, kaki, dan tangan. Ia diselamatkan seminggu setelah gempa berkekuatan 7,8 pada skala Richter mengguncang Nepal dan menewaskan lebih dari 7.300 jiwa. Bencana itu merupakan yang terburuk di wilayah Himalaya dalam 80 tahun terakhir.

Tamang sempat mendengar suara batu bergemuruh menuruni bukit yang mengelilingi desa di Kabupaten Nuwakot. Dengan seketika, bebatuan tersebut menghujani rumah-rumah penduduk desa hingga roboh.

"Saya sedang berada di taman ketika batu dari atas bukit meluncur dan menghunjam ke dada saya. Saya pikir ini sudah waktunya (meninggal)," kata Tamang kemarin.

Petani itu masih terbaring lemah di sebuah rumah sakit di Kota Hattigauda. Ia berupaya memulihkan diri seusai insiden yang hampir merenggut nyawanya.

"Entah kenapa saya masih selamat juga," katanya.

Menurutnya, gempa kali ini lebih menakutkan daripada gempa besar yang mengguncang lembah Kathmandu pada 1934.

Nyawa Tamang juga terselamatkan berkat menantu perempuannya. Sang menantu menarik tubuh Tamang keluar dari reruntuhan dan batu besar yang mengapit beberapa jam setelah kejadian.

Dengan luka di sekujur tubuh, Tamang bertahan hidup di taman selama seminggu hingga tentara Nepal menerbangkannya ke rumah sakit.

"Dia (menantu perempuan) menyelamatkan saya. Jika tidak, saya pasti meninggal," ujarnya.

Medan yang sulit

Tamang juga menceritakan banyak penduduk di desanya meninggal. Bahkan jasad tetangganya sudah mulai membusuk.

"Banyak yang meninggal di desa kami. Bau tidak sedap keluar dari jasad yang membusuk dan tidak ada biksu yang memimpin upacara kematian," tukas Tamang.

Polisi awalnya mengatakan Tamang terjebak di bawah reruntuhan rumahnya sejak gempa besar melanda.

Akan tetapi, mereka meluruskan informasi tersebut dan mengatakan Tamang sebenarnya diselamatkan dari kebunnya, tempat ia berlindung sejak bencana terjadi. Penyelamatan Tamang merupakan sepotong kabar baik di negeri yang kini porak-poranda itu.

"Saya tidak tahu apakah ini sebuah keberuntungan atau tidak. Namun, saya orang yang kuat," tambah Tamang.

Petugas polisi mengakui desa tempat Tamang tinggal sangat terpencil. Kondisi itu membuat operasi pencarian dan penyelamatan kian sulit. Apalagi, banyak akses jalan terputus.

Operasi penyelamatan di Nepal kini mulai terfokus pada desa-desa yang sulit dijangkau. Sebagian besar operasi penyelamatan di luar Kathmandu dilakukan polisi lokal dan tentara Nepal meski pemerintah itu telah mengesampingkan kemungkinan penyelamatan dan pencarian.

Beberapa tim penyelamat yang berasal dari 20 negara menggunakan anjing pelacak dan peralatan pencari panas untuk menemukan korban selamat di balik reruntuhan.

Seiring dengan menumpuknya jasad, komunitas Buddha di Nepal memutuskan akan menggelar kremasi massal.

"Ketika banyak orang yang lebih muda telah mati, kini saya terus bertanya-tanya, kapan saya meninggal," tukas Tamang.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya