Fasih Berbahasa Asing Berkontribusi bagi Negara

Indriyani Astuti/I-1
02/5/2015 00:00
Fasih Berbahasa Asing Berkontribusi bagi Negara
(AFP/POOL/ADI WEDA)
TIDAK pernah terpikir oleh Jona Widhagdo Putri, 32, belajar bahasa asing dapat membantu pemerintah mempererat hubungan bilateral dengan negara lain.

Perempuan kelahiran Jakarta, 15 Desember 1982 itu ialah salah satu penerjemah Presiden RI Joko Widodo dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada peringatan Konferensi Asia Afrika di Bandung, April lalu.

Lulusan S-1 University of London, Inggris, dan S-2 di Beijing itu juga didaulat menjadi 'telinga dan mulut' Presiden pada APEC 2014 di Beijing.

Tawaran pertama Jona datang dari Kementerian Luar Negeri melalui diplomat KBRI di Beijing saat dia masih kuliah di sana.

Kala itu, Jona diminta membantu KBRI dalam sejumlah pertemuan delegasi RI dengan berbagai instansi di Tiongkok.

"Dari sana, saya mulai menerjemahkan level kementerian, DPR, juga pimpinan MPR. Setelah lulus pada 2009, saya kembali ke Indonesia," kata Jona yang kini aktif mengajar di Departemen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia.

Sebagai penerjemah kenegaraan, Jona tidak sekadar dituntut fasih berbahasa asing.

"Penerjemah perlu menguasai kebudayaan, sosiologi masyarakat, sejarah bilateral kedua negara, serta kebijakan pemerintah," kata Jona, Kamis (30/4).

Persiapan yang harus dilakukan penerjemah kepala negara, tutur dia, ialah memahami kebijakan pemerintah dan mengetahui latar belakang tamu negara yang hadir supaya pemilihan diksi dan istilah yang digunakan tidak salah.

"Harus sering membaca terminologi terkait misalnya poros maritim. Di Indonesia itu diterjemahkan gimana. Biasanya saya ikuti dari pidato-pidato presiden. Kalau enggak sempat menyiapkan itu, pasti akan kesulitan," tutur dia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya