JALAN-JALAN di Kota Baltimore, Amerika Serikat (AS), Selasa (28/4) pagi, tampak seperti zona perang setelah pada malamnya terjadi kerusuhan, pembakaran, dan luapan kemarahan warga yang memprotes kematian warga kulit hitam Freddie Gray, 25, saat ditahan polisi. "Setelah begitu banyak ge-nerasi membangun Baltimore, kota ini dihancurkan oleh preman yang dalam cara yang tidak masuk akal, mencoba meruntuhkan apa yang telah diperjuangkan banyak orang," ungkap Wali Kota Stephanie Rawlings-Blake. Kerusuhan pecah di seluruh penjuru Kota Baltimore kurang dari tiga pekan setelah Gray meninggal dalam tahanan polisi pada 19 April.
Ribuan polisi dan pasukan Garda Nasional dikerahkan untuk membantu aparat keamanan yang terkepung di Baltimore, Selasa (28/4). Kepala Kepolisian Maryland, Kolonel William Pallozzi, mengatakan dia telah memerintahkan 500 polisi ke Baltimore dan meminta 5.000 personel dari wilayah Mid-Atlantik. Komandan Garda Nasional Ajudan Jenderal Linda Singh mengatakan dia memiliki 5.000 polisi yang siap dikerah-kan untuk melindungi masyarakat dan properti. Setidaknya 27 orang ditangkap dan 15 polisi terluka akibat terkena batu dan bata yang dilemparkan massa, yang mayoritas siswa sekolah menengah atas (SMA).
Mereka terlibat bentrokan sengit dengan penegak hukum dan menyerang toko-toko setempat. Otoritas Negara Bagian Maryland mengumumkan keadaan darurat setelah terjadi kerusuhan dan penjarahan di Baltimore. Mulai Selasa (28/4) malam, jam malam diberlakukan dan sekolah-sekolah diliburkan. Universitas di pusat Kota Maryland, kantor perusahaan, dan Pasar Lexington juga ditutup lebih awal. Polisi mengatakan sedang menganalisis rekaman video untuk mengidentifikasi kemungkinan pelaku lainnya setelah 27 orang ditangkap dalam kerusuhan itu. Seiring langit Kota Baltimore yang berangsur-angsur terang setelah ditutupi asap akibat aksi, Selasa (28/4) dini hari, polisi optimistis kondisi bakal segera normal.
"Saya pikir untuk sebagian besar kota menenangkan diri, perlahan tapi pasti, selain aksi pembakaran mobil dan material di jalan-jalan," ungkap Kepala Kepolisian Baltimore Anthony Batts saat konferensi pers tak lama sebelum tengah malam. Kekerasan di Baltimore ialah kejadian terbaru dari serangkaian konfrontasi antara polisi AS dan warga, terutama warga Afro-Amerika yang marah terhadap apa yang mereka lihat sebagai sikap rasialis di tubuh kepolisian. Sebelumnya, penembakan remaja kulit hitam tak bersenjata Michael Brown oleh polisi kulit putih di Ferguson juga menyulut kerusuhan.
Kerusuhan meletus setelah Gray dimakamkan, yang mungkin didorong oleh pesan berantai di media sosial yang mendeklarasikan 'pembersihan' setelah jam sekolah, istilah jalanan untuk pelanggaran hukum secara acak. Ribuan orang berkumpul di Gereja New Shiloh Baptist di lingkungan Baltimore yang miskin, Sandtown Baltimore, untuk memberikan penghormatan kepada Gray. Pihak Gedung Putih mengatakan Presiden Barack Obama telah diberi tahu tentang situasi yang berkembang di Baltimore.