GEMPA bumi 7,8 pada skala Richter yang mengguncang Nepal, Sabtu (25/4) membuat lapisan bumi di bawah Kathmandu bergeser hingga 3 meter ke selatan. Meski demikian, ketinggian Gunung Everest (8.848 mdpl) tidak berubah.
Menurut James Jackson, ahli tektonik dari Universitas Cambridge di Inggris, pergeseran itu didasarkan pada data seismologi awal dari gelombang suara yang melintasi Bumi setelah gempa.
Analisis Jackson itu klop dengan temuan Sandy Steacy, Kepala Departemen ilmu Fisika Universitas Adelaide, Australia. "Mungkin gempa terjadi pada patahan Thrust Himalaya, batas lempeng yang memisahkan sub-benua India yang bergerak dari Eurasia," katanya.
"Patahan naik-turun sekitar 10 derajat ke utara-timur laut. Pergerakan relatif di sepanjang zona patahan berada di urutan 3 meter pada skala paling besar, di utara Kathmandu," papar Steacy.
Namun, ia berpendapat ketinggian Gunung Everest tidak berubah karena posisinya tidak berada langsung di atas jalur patahan. "Pergeseran utama pada bagian barat dari Everest," jelasnya.
Mengenai jumlah korban, Perdana Menteri Nepal Sushil Koirala memperkirakan ada lebih dari 10 ribu orang. "Pemerintah melakukan segala upaya penyelamatan. Ini masa sulit bagi Nepal," kata Koirala.
Pemerintah Nepal dan Palang Merah Nepal pun sudah mengumumkan keadaan darurat dan minta bantuan kepada dunia. Hal itu bertujuan memberikan jaminan hidup dan kesehatan bagi sebagian besar rakyat Nepal yang kini menderita akibat bencana.
Pada bagian lain, Menlu Retno Marsudi mengatakan masih ada 13 warga negara Indonesia (WNI) di Nepal yang hingga kemarin belum dapat dihubungi. "Kami terus mencoba melalui cara apa pun untuk mengetahui keberadaan mereka," katanya di Langkawi, Malaysia, kemarin.
Menurut data, kata Retno, jumlah WNI yang berada di Nepal 54 orang, terdiri dari 18 WNI menetap dan 36 pengunjung.
Untuk memastikan nasib WNI itu, Kemenlu telah memerintahkan Dubes RI di Dhaka untuk masuk ke negara itu dibantu tim dari Kemenlu dan Polri.