Pasar Tepat untuk Kereta Cepat

MI
28/4/2015 00:00
Pasar Tepat untuk Kereta Cepat
()
PERUSAHAAN-PERUSAHAAN produsen Eropa, Kanada, dan Korea Selatan tengah berlomba-lomba untuk memenangi proyek-proyek rel kereta cepat di negara-negara Asia. Namun, kompetisi paling panas ialah antara Jepang dan Tiongkok.

Jepang sudah memulai pengembangan dan penggunaan kereta cepat sebagai angkutan massal pada 1964, sedangkan Tiongkok, kini, menguasai lebih dari setengah proyek rel kereta cepat dunia yang panjangnya mencapai 23 ribu kilometer.

Kereta supercepat buatan Tiongkok juga sesungguhnya bergantung pada transfer teknologi termasuk dari Mitsubishi Electric dan Kawasaki, keduanya asal Jepang.

Menurut Richard Lawless, kepala proyek Texas Central Railroad di Amerika Serikat (AS) yang juga didukung Jepang, "Joint venture kedua perusahaan itu menghasilkan sebuah sistem yang kini digunakan Tiongkok."

Berkat transfer teknologi itu, Tiongkok kini mampu meredesain komponen-komponen utama juga mempromosikan produknya sendiri yang bisa melaju dengan kecepatan hingga 380 kilometer per jam.

Asia memang merupakan pasar yang prospektif untuk proyek-proyek kereta cepat. Sebutlah rel kereta sepanjang 400 kilometer yang bakal menghubungkan Malaysia dan Singapura. Rancangan proyek itu telah dirundingkan selama hampir 10 tahun tapi belum ada kemajuan.

Di Vietnam, proyek rel kereta cepat juga pernah diusung dan dibatalkan pada 2010. Namun, bulan lalu, Perdana Menteri (PM) Vietnam Nguyen Tan Dang memberi sinyal bakal menyetujui fase awal proyek rel kereta cepat dengan kecepatan hingga 200 kilometer per jam pada 2030. Fase finalnya direncanakan akan komplet pada 2050 dengan kereta berkecepatan 350 kilometer per jam.

Yang terbaru, pekan lalu, Indonesia dan Tiongkok meneken memorandum of understanding untuk pembangunan jalur kereta cepat rute Jakarta-Bandung yang diperkirakan memakan biaya US$6,7 miliar. Di Indonesia sendiri, tidak ada jalur kereta baru yang dibangun sejak penjajahan Belanda berakhir hampir 70 tahun silam.

Itu pun belum semua. Kamboja tidak ketinggalan telah menyepakati kontrak dengan grup China Railway, perusahaan operator kereta cepat di Tiongkok, untuk pembangunan jalur kereta sepanjang 400 kilometer. Jalur dengan perkiraan biaya US$10 miliar itu menghubungkan kawasan industri baja di Provinsi Preah Vihear ke pelabuhan di Koh Kong.

India juga telah merencanakan sembilan koridor kereta baru untuk memperbaiki pelayanan kereta-keretanya yang saat ini berkecepatan maksimal 150 kilometer per jam.

Untuk itu, India dan Jepang telah melakukan studi kelayakan yang dijadwalkan akan tuntas pada Juli mendatang. Konstruksinya pun direncanakan dimulai pada 2017 untuk jalur rute Mumbai-Amedabad dengan biaya US$11,3 miliar-US$12,9 miliar.

Ada lagi proposal jalur kereta antara Tiongkok dan Nepal yang belum ketahuan kisaran biayanya. Menurut laporan, jalur kereta itu bahkan dirancang menembus Pegunungan Everest lewat terowongan-terowongan.

Proyek jalur kereta yang terang prospeknya ialah antara Tiongkok dan Thailand. Thailand tengah berencana membangun kereta dua jalur dengan kecepatan mencapai 350 kilometer per jam. Menurut kantor berita Xinhua, Beijing dan Bangkok tengah membahas detail kerja sama dalam konstruksi rel ganda.

Rute itu akan membentang sepanjang 1.200 kilometer dari Tiongkok menuju Teluk Thailand. "Pembangunan jalur rute yang akan menghubungkan Thailand, Laos, dan Kunming itu sangat amat mungkin dilakukan Tiongkok. Pinjamannya pun akan diberikan Tiongkok. Jadi jika ada yang datang mengajukan pembiayaan sekaligus membawakan pinjaman, hampir pasti dia pula yang akan memenuhi segalanya," kata asisten profesor Wichai Siwakosit di Universitas Kasetsart, Bangkok, Thailand.

Bank Investasi Infrastruktur Asia yang Oktober lalu pembentukannya diluncurkan Tiongkok dan langsung didukung banyak negara juga akan berperan banyak.

"Bank itu akan membuat Tiongkok lebih mudah melakukan penetrasi proyek dan memberikan pinjaman ketimbang institusi-institusi lain," ucap Richard Lawless, ketua proyek Texas Central Railroad di AS.

Selain di Asia, Tiongkok dan Jepang juga berlomba-lomba 'menjajakan' kereta cepat mereka ke AS, terutama dua negara bagian terbesar yakni California dan Texas. Pihak berkepentingan di dua negara bagian tersebut masih menimbang-nimbang pilihan mereka.

"Menurut saya, untuk segi teknologi, pengalaman operasional, dan keselamatan, pasti Jepang pilihannya. Mereka memiliki riwayat performa operasional dan keselamatan yang luar biasa," ucap Lawless lagi.

Namun, dari sisi finansial yang justru merupakan isu kritis, Lawless berpendapat, "Untuk segi finansial yang kritis itu mungkin Tiongkok dapat kita katakan jauh lebih agresif dan lebih komprehensif. Karena itulah, kita lihat sendiri, proyek mereka ada di mana-mana di seluruh dunia."

Adapun Jepang, yang baru saja menguji coba kereta maglev terbarunya dengan rekor kecepatan hingga 603 kilometer per jam, berencana memulai operasional maglev dengan rute antara Tokyo dan Nagoya pada 2027. Saat masa itu tiba, maglev pun bisa jadi bukan lagi kereta tercepat di dunia.

Elon Musk, miliarder AS, telah mengumumkan rencananya menguji coba kereta yang kecepatannya jauh melampaui maglev. Musk berencana mewujudkan alat transportasi yang dia sebut hyperloop, yakni berbentuk kapsul-kapsul bertekanan berisi penumpang. Kapsul-kapsul itu bak ditembakkan sehingga bisa melesat seperti peluru, dengan kecepatan 1.220 kilometer per jam. (VOA/China Daily/Xinhua/Wey/I-3)




Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya