PARA personel tim pencari dan penyelamat (SAR) di Nepal, kemarin, terus berjuang mencari korban selamat dalam timbunan reruntuhan di penjuru ibu kota Kathmandu yang hancur akibat gempa 7,8 pada skala Richter (SR). Bencana itu merupakan yang terburuk dalam 80 tahun terakhir. Gempa terparah yang dialami Nepal itu dirasakan di India, Malaysia, Bangladesh, dan Tibet di barat daya Tiongkok. Beberapa regu bantuan internasional dan pemerintah mengintensifkan upaya mencari mereka yang mungkin masih selamat di balik reruntuhan.
Namun, komunikasi yang terputus dan ancaman bencana tanah longsor menjadi tantangan berat dalam upaya penyelamatan. "Kita tahu bahwa di banyak wilayah, baik di perdesaan maupun di beberapa kota besar, telah menderita terjangan bencana tanah longsor dan akses jalan yang terputus," ungkap Mike Bruce, manajer komunikasi regional untuk organisasi bantuan Plan International. Saat korban tewas melampaui 2.200 jiwa, Amerika Serikat bersama beberapa negara Eropa dan Asia mengirim kru darurat untuk memperkuat tim di lapangan. Di tengah upaya pencarian dan penyelamatan, warga Kathmandu yang belum tenang kembali digegerkan oleh gempa susulan berkekuatan 6,7 SR, kemarin. Badan Geological Survey AS melaporkan gempa terbaru melanda timur laut Kathmandu yang berbatasan dengan Tiongkok dengan kedalaman 10 km. Warga yang panik menghabiskan malam mereka dengan mencoba tidur di jalanan dan lapangan terbuka di lokasi sekitar tenda-tenda darurat.
WNI di Nepal Kementerian Luar Negeri RI mengidentifikasi 34 WNI di Nepal saat terjadi gempa. Mereka sebanyak 18 orang menetap di Nepal dan 16 lainnya sedang berkunjung, termasuk di antaranya sedang mendaki Gunung Everest. Sejauh ini 17 WNI diketahui selamat. Sisanya masih dilakukan pencarian. Terkait hal itu, Konsul Kehormatan Indonesia di Kathmandu terus memonitor dan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Nepal. Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu RI Lalu Muhamad Iqbal mengatakan masyarakat yang mengetahui ada keluarga atau teman WNI di Nepal dan tidak ada dalam daftar rilis Kemenlu, bisa menyampaikan kepada Hernawan Bagaskoro Abid, Direktorat Perlindungan WNI dan BHI, Kemenlu RI, telepon (021) 3813186 atau +6281284794696.