Kematian Akibat Covid-19 di Dunia Capai Lebih 150.000 Jiwa

Nur Aivanni
18/4/2020 09:53
Kematian Akibat Covid-19 di Dunia Capai Lebih 150.000 Jiwa
Warga Inggris mendesak agar semua orang tinggal di rumah selama pandemi Covid-19.(AFP/OLI SCARFF)

KEMATIAN akibat virus korona baru atau Covid-19 di dunia melewati 150.000, Jumat (17/4), ketika Presiden AS Donald Trump menuduh Tiongkok terus menutupi jumlah korbannya, bahkan setelah Beijing merevisi angka yang meningkat tajam di Wuhan.

Dikutip dari AFP, Jumat (17/4), kematian akibat Covid-19 meningkat di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat yang paling terdampak, tetapi terdapat data baru tentang meningkatnya infeksi dan kematian di Afrika.

Baca juga: Astaga, Jumlah Kasus Covid-19 di AS Seperempat Total Kasus Dunia

Lebih dari 2,2 juta kasus covid-19 telah dilaporkan di 193 negara dan wilayah, menurut angka yang dikumpulkan oleh AFP dari otoritas nasional dan informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Namun, angka tersebut mungkin hanya mencerminkan sebagian kecil dari jumlah infeksi sebenarnya, karena banyak negara hanya menguji kasus yang paling serius.

Dari lebih dari 150.000 total kematian di dunia, Amerika Serikat telah mencatat 34.614, Italia 22.745, dan Spanyol 19.613. Sementara itu, Afrika melaporkan ada 1.000 kematiannya pada Jumat.

Tiongkok telah mencatat 4.636 kematian. Pada Jumat, Tiongkok meningkatkan jumlah resmi untuk kota Wuhan sebanyak 1.290 menjadi 3.869.

Trump, yang dituduh bereaksi terlalu lambat terhadap ancaman virus korona, menuduh bahwa jumlah Beijing masih tidak benar.

"Jauh lebih tinggi dari itu dan jauh lebih tinggi dari AS, bahkan tidak dekat!" cuit Trump dalam akun Twitternya.

Para pemimpin di Prancis dan Inggris juga mempertanyakan manajemen krisis di Tiongkok. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa "naif" jika berpikir Beijing telah menangani pandemi dengan baik.

Beijing pun membalas serangan tersebut dan bersikeras bahwa tidak ada yang ditutup-tutupi. "Tidak pernah ada yang ditutupi, dan kami tidak akan pernah membiarkan hal itu," kata juru bicara kementerian luar negeri. (AFP/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya