Solidaritas Asia Afrika

MI/ADIYANTO
25/4/2015 00:00
Solidaritas Asia Afrika
(ANTARA/AACC2015/WIDODO S JUSUF)
KEMARIN, peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika resmi berakhir. Acara tapak tilas (historical walk) di Bandung yang diikuti sejumlah kepala negara peserta, menutup hajatan besar itu yang dimulai di Jakarta sejak 19 April lalu. Dengan didampingi Presiden Joko Widodo beserta Ibu Negara, mereka berjalan kaki dari Hotel Savoy Homann menuju Gedung Merdeka di Jalan Braga, Bandung.

Bandung dipilih sebagai momen terakhir karena di kota inilah hajatan itu diselenggarakan pada 60 tahun lalu. Sebagaimana penyelenggaraan pada 1955, Indonesia selaku tuan rumah kembali menjadi sorotan dunia. Apalagi, hasil kesepakatan dari pertemuan yang dihadiri sejumlah kepala negara di kawasan ini pun cukup 'galak', terutama wacana dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.

Terlepas apakah gagasan tersebut bakal terwujud atau tidak, setidaknya para wakil dari kawasan ini telah 'bersuara' untuk memperkuat dan mewujudkan tatanan dunia yang lebih baik. Hal ini pun sesuai dengan 'napas' Dasa Sila Bandung yang dihasilkan 60 tahun lalu, yakni antara lain menyerukan untuk menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.

"Suara-suara di pertemuan ini mewakili suara Asia dan Afrika. Dengan demikian, masyarakat dunia harus mendengarkan suara dan keputusan-keputusan yang telah kami buat dalam pertemuan ini," ucap Presiden Joko Widodo, dalam pidato penutupan.

Selaku penyelenggara, Indonesia berhasil menjadi tuan rumah yang baik. Ucapan terima kasih tentunya patut dihaturkan untuk semua pihak yang terlibat dalam hajatan ini, terutama masyarakat yang rela berkorban sedikit terganggu aktivitasnya lantaran penutupan sejumlah ruas jalan selama hajatan berlangsung. Hal ini semua tentu demi nama baik dan martabat bangsa, juga demi solidaritas Asia Afrika.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya