Parlemen Berperan dalam Diplomasi

Nur Aivanni
24/4/2015 00:00
Parlemen Berperan dalam Diplomasi
(NTARA/Muhammad Adimaja)
KETUA Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Setya Novanto menegaskan bahwa parlemen memiliki peran penting dalam diplomasi internasional.

''Kita juga mulai memikirkan perlunya membangun peran parlemen untuk memajukan demokrasi dunia dengan membentuk Forum Parlemen Dunia untuk Demokrasi,'' kata Setya kala membuka Konferensi Parlemen Asia Afrika, kemarin (Kamis, 23/4/2015).

Ketua DPR juga menyoroti upaya mencari solusi atas masalah dunia yang semakin kompleks. Untuk itu, imbuhnya, perlu memperkuat kemitraan strategis baru Asia-Afrika.

''Kemitraan strategis baru diharapkan memberi kekuatan untuk membuka jalan bagi kemerdekaan Palestina,'' jelasnya.

Untuk menuntaskan utang sejarah, yakni memerdekakan Palestina, Setya mengajak konferensi parlemen menghasilkan sebuah deklarasi.

''Isi deklarasi tersebut diharapkan dapat merespons era globalisasi dengan mengajak semua peserta untuk membangun kebersamaan baru dalam melaksanakan agenda pembangunan selepas 2015, antara lain memperkuat kerja sama Selatan-Selatan, yakni perdamaian dunia dan kesejahteraan rakyat,'' paparnya.

Setya juga menekankan perlunya kerja sama yang konkret di bidang infrastruktur, agrobisnis, energi, perdagangan, investasi, dan pengelolaan lingkungan hidup yang lestari. Oleh karena itu, lanjutnya, perlu dibangun komunikasi efektif antarbenua dalam wadah forum kerja sama Parlemen Asia-Afrika.

Semangat Asia-Afrika
Sementara itu, mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang menjadi key note speaker dalam Konferensi Parlemen Asia Afrika meminta bangsa Asia-Afrika bisa menciptakan perdamaian di dunia terutama Palestina.

Dia juga menuturkan kekagumannya akan eratnya hubungan antarnegara Asia-Afrika. SBY juga berharap Konferensi Asia-Afrika dapat mengembalikan nama besar Indonesia.

''Saya katakan semangat Asia-Afrika tidak pernah hilang, fighting for peace, for justice, for prosperity. Kalau dulu semangatnya untuk antikolonialisme, sekarang setelah kita merdeka, kita tetap fight for justice. Mudah-mudahan hal itu bisa membawa angin baru bagi Indonesia dalam percaturan global,'' seru SBY.

Pada kesempatan itu, ia juga menilai kemiskinan masih menjadi masalah utama di negara-negara Asia-Afrika.

Saat ini, lanjut SBY, kemiskinan yang ada di Asia-Afrika sudah turun menjadi hanya 20%, ketimbang 80% pada 1950-an. Karenanya, dia mengingatkan perwakilan parlemen negara Asia-Afrika untuk melawan kemiskinan.

''Kemiskinan tetap menjadi masalah utama Asia-Afrika, termasuk di Indonesia. Di Asia-Afrika, 700 juta penduduk hidup dengan penghasilan di bawah US$1 per hari,'' kata SBY.

Menurut SBY, akibat rendahnya kesejahteraan, banyak orang tidak mendapat akses kesehatan. Dampaknya, banyak orang meninggal karena penyakit yang seharusnya bisa disembuhkan.(Nov/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya