DIPLOMASI merupakan seni dan upaya negosiasi. Untuk berdiplomasi, tatap muka dalam pertemuan bilateral menjadi suatu hal lumrah. Namun, Presiden Joko Widodo dinilai lihai menyampaikan jurus semiotika yang bukan semata kata-kata, melainkan melalui posisi duduk.
Saat pembukaan Pertemuan Puncak Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika ke-60 di Jakarta, pada Rabu (22/4), Jokowi duduk dengan diapit dua pemimpin negara adidaya Asia, Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe.
Tak hanya posisi ketika duduk di kursi. Saat sesi pose bersama, Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, tetap menjaga format semula. Berbeda dengan para pemimpin negara lain yang berubah posisi saat para wartawan mengarahkan kamera mereka.
Saat jamuan makan malam para pemimpin negara di KTT APEC, pada November silam, Jokowi pun mengambil inisiatif posisi duduk yang strategis. Dia duduk di sebelah kanan Xi Jinping yang berdampingan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebelah kanan Jokowi, duduk Presiden AS Barack Obama.
''Saya berada di mana? Di tengah kan. Itu simbol. Simbol-simbol itu harus bisa dibaca (bahwa) kita ini jadi rebutan. Kita ada di tengah. Bebas aktif dan itu (arahan) konstitusi kita,'' ucap Jokowi.
Jokowi menyadari bahwa setiap negara itu mempunyai kepentingan berbeda terhadap Indonesia. Namun, mantan Gubernur DKI Jakarta itu menegaskan ia tidak bakal mengutamakan satu negara atas negara lainnya.
''Ada kepentingan mereka. Tentu saja kalau kita melihat itu kepentingan mencari kawan. Kita sendiri bebas aktif. Saya mau mencari kawan siapa pun boleh dong. Mau di sana, mau di sini. Tetapi dengan catatan kepentingan nasional, kepentingan rakyat kita harus dinomorsatukan,'' ucapnya.
Apakah hal serupa Jokowi tersirat di pelaksanaan KAA kali ini? Saat ditemui di Jakarta Convention Center, kemarin, juru bicara Kemenlu RI, Arrmanatha Nasir, mengakui pihak protokoler mengatur penentuan posisi duduk Jokowi yang diapit Xi dan Abe.
Namun demikian, Tata mengakui posisi tersebut juga menyiratkan kedekatan Indonesia dengan kedua negara Asia Timur itu. Padahal, kedua negara itu tengah bersitegang soal sengketa Kepulauan Senkaku atau Daioyu serta sejarah Perang Dunia II.
Kendati memiliki sejumlah persoalan yang belum selesai, Xi dan Abe tetap bersedia hadir dan bertemu di peringatan 60 tahun KAA. Bahkan, dua pemimpin berpengaruh di kawasan Asia itu sepakat berkontribusi demi stabilitas regional.(I-3)