PBB Soroti Ancaman Terhadap Anak

MI
19/2/2020 22:40
PBB Soroti Ancaman Terhadap Anak
Profesor Anthony Costello(ucl.ac.uk)

LAPORAN PBB menyatakan negara-negara di dunia gagal melindungi anak-anak dari bahaya kesehatan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dan pola makan yang buruk.

Menurut lebih dari 40 pakar kesehatan anak dan remaja terkemuka, tidak ada satu pun negara di dunia yang secara memadai melindungi generasi berikutnya dari dampak emisi karbon, perusakan alam dan makanan berkalori tinggi serta olahan.

Laporan yang ditugaskan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF juga menyoroti ancaman yang dihadapi anak-anak dari pemasaran berbahaya dari makanan yang sarat lemak dan gula, alkohol serta tembakau.

“Pesan pentingnya adalah tidak ada satu negara pun yang melindungi kesehatan anak-anak hari ini dan untuk masa depan mereka,” kata Anthony Costello, Profesor Kesehatan Anak Internasional dan Direktur Institute untuk Kesehatan Global di University College London, Rabu (19/2).

Laporan yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet tersebut memeringkat kinerja 180 negara dalam hal tingkat kelangsungan hidup anak, pendidikan dan gizi.

Berdasarkan kriteria tersebut, negara-negara yang kurang berkembang seperti Republik Afrika Tengah dan Chad memiliki kinerja yang sangat buruk dibandingkan dengan negara-negara kaya seperti Norwegia dan Belanda.

Namun, peringkat sebagian besar tersebut terbalik ketika kemudian dinilai mengenai dampak polusi udara atas emisi karbon per kapita.

Dalam laporan tersebut juga disampaikan bahwa ada sekitar 250 juta balita di negara berpenghasilan rendah dan menengah berisiko terhambat karena kekurangan gizi dan dampak lainnya, seperti kemiskinan.

Pada saat yang sama, jumlah anak-anak gemuk di seluruh dunia telah meningkat 11 kali lipat sejak tahun 1975 menjadi 124 juta.

Anak-anak di beberapa negara melihat sebanyak 30 ribu iklan di televisi dalam satu tahun. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di Australia terpapar 51 juta kali iklan alkohol yang disiarkan televisi.

Para penulis laporan tersebut pun meminta pemerintah untuk secara radikal mengurangi emisi karbon dan memperketat regulasi pemasaran yang berbahaya. (AFP/Nur/X-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya