Korut Hidupkan Kembali Reaktor Plutonium

Haufan Hasyim Salengke
10/2/2016 20:23
Korut Hidupkan Kembali Reaktor Plutonium
(Istimewa)
MATA-mata kawakan Amerika Serikat (AS), Selasa (11/2) waktu setempat, mengungkapkan Korea Utara (Korut) telah menghidupkan kembali sebuah reaktor plutonium yang bisa menciptakan sebuah bom nuklir dan sedang membangun teknologi rudal yang bisa mengancam 'Negeri Paman Sam'.

Dalam penilaian ancaman tahunan, Direktur Intelijen Nasional James Clapper dan pejabat militer dan intelijen senior secara khusus menyebut Pyonyang sebagai ancaman utama dan tak terprediksi.

Letnan Jenderal Vincent Stewart, Direktur Badan Intelijen Pertahanan, ikut menyokong Clapper untuk melakukan paparan singkat di Komite Angkatan Bersenjata Senat tentang bahaya global yang dihadapi oleh para perencana AS.

"Program senjata nuklir Korea Utara dan perkembangan program rudal adalah ancaman yang terus berlanjut," katanya.

Clapper mengatakan rezim Pyongyang yang dipimpin Kim Jong-un terus mengembangkan spionase siber dan kemampuan serangan siber, dan telah menjual teknologi senjata ilegal ke negara-negara lain.

Bulan lalu, rezim 'Negeri Juche' melakukan uji coba 'bom hidrogen', tapi, menurut Clapper, intelijen AS meyakini level uji coba itu terlalu rendah untuk sebuah tes termonuklir yang sukses. Sejumlah pakar persenjataan dan nuklir pun menyangsikan uji coba tersebut.

Itu merupakan uji coba nuklir keempat Korea Utara, yang dipercaya semakin menambah jumlah perangkat termonuklir destruktif di gudang persenjataan negara itu.

Sementara itu, sekutu Korut, Rusia, memperingatkan rencana kerja sama antara Korea Selatan (Korsel) dan AS yang akan menempatkan sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defence System (THAAD) di wilayah Korsel. Moskow menyebut rencana itu bakal mendorong perlombaan senjata di kawasan.

Seperti dilaporkan, pejabat pertahanan Seoul dan Moskow pada pekan lalu mengatakan mereka akan memulai pembicaraan formal tentang pengerahan sistem THAAD dalam merespons uji coba nuklir dan rudal terbaru Korut.

"Munculnya elemen-elemen sistem pertahanan rudal global AS di wilayah tersebut bisa memprovokasi perlombaan senjata di Asia Timur Laut dan menyulitkan penyelesaian masalah nuklir di Semenanjung Korea," kata kementerian luar negeri Rusia. (AFP/AP/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya