''Inilah konferensi antarbenua yang pertama dari bangsabangsa kulit berwarna di sepanjang sejarah umat manusia.''
KALIMAT di atas adalah bagian dari cuplikan pidato Presiden RI pertama Soekarno di hadapan para delegasi Konferensi Asia Afrika pada 18 April 1955 di Bandung. Cuplikan pidato tersebut menjadi pernyataan terjadinya kemitraan antara bangsa-bangsa yang berada di benua Asia dan Afrika. Kemitraan yang digalang merupakan wujud perlawanan terhadap segala bentuk kolonialisme di atas muka bumi.
Direktur Jenderal Asia Afrika Kementerian Luar Negeri Yuri Octavian Thamrin menyampaikan, Indonesia yang saat itu bertindak sebagai tuan rumah bisa saja memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Pasalnya, Indonesia sedang berada dalam konfrontasi dengan Belanda menyangkut pembebasan Irian Barat dan memerlukan persetujuan dari 2/3 mayoritas anggota Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bisa membahasnya di sidang umum.
Namun, Indonesia memilih tidak menyinggung hal tersebut dalam konferensi dan lebih mendahulukan upaya bersama mengatasi kolonialisme. Karena itu, rumusan Dasasila Bandung tidak mencantumkan kepentingan spesifik menyangkutIndonesia. Kota Bandung bahkan disebut tepat untuk menjadi ibu kota bagi negara Asia-Afrika oleh Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru. Walau demikian, proses perumusan tidak menjadi mudah.
''Untuk merumuskan pernyataan bersama yang bisa diterima semua pihak dalam konferensi itu bukanlah proses yang gampang. Kita berdebat panjang, misalnya saat menyampaikan rumusan <>colonialism hingga akhirnya kita sebutkan <>colonialisme in all manifestation," terang Direktur Jenderal Asia Pasifik Yuri Gagarin dalam Forum Tematis Bakohumas di Bandung, beberapa waktu lalu.
Semangat yang digelorakan melalui Dasasila Bandung itu berbuah manis. Setidaknya terdapat 36 negara yang berhasil memerdekakan diri selama rentang satu dekade setelah KAA digelar. Sayangnya, semangat kemitraan Asia-Afrika menurun seiring dengan perubahan kondisi politik yang terjadi di dunia. India dan Tiongkok, misalnya, malah berperang satu sama lain. Aljazair mengalami kudeta di dalam negeri sehingga prioritas utama mereka ialah menyelesaikan masalah dalam negeri.
Indonesia sendiri menghadapi perubahan prioritas kebijakan ketika Orde Baru mengambil tampuk pimpinan dengan mendahulukan pembangunan dalam negeri.
''Baru pada 1992, kita mulai pede berkiprah kembali di level internasional tapi kita lebih mempromosikan Gerakan NonBlok. Baru pada 2005, kita kembali membangkitkan KAA. Jadi, praktis antara 1955 hingga 2005 itu KAA seperti ada dan tiada,'' papar Yuri.
Kemitraan selatan-selatan Indonesia menyadari bahwa KAA masih penting sebagai kelompok diplomatik. Tapi, Indonesia juga menyadari bahwa kemitraan yang digalang semestinya bisa bermanfaat lebih dari itu. Berangkat dari kesadaran tersebut, KAA kemudian dilembagakan dalam New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP) sejak 2005 silam. Lembaga tersebut merupakan mata rantai penting agar semangat KAA bisa terus hadir dan relevan dalam konteks kekinian.
''Bagaimanapun, untuk orang Indonesia, KAA itu adalah our DNA. Kalau orang lain enggak peduli, kita harus peduli,'' sahut Yuri.
Adaptasi terjadi pula terkait isu yang diusung. Jika dulu terkait kolonialisme, isu yang diusung sekarang lebih mengedepankan pemerataan kesejahteraan antara negara-negara Asia dan Afrika. Isu tersebut dipilih karena menggambarkan kondisi yang dihadapi mayoritas negara-negara Asia dan Afrika dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat di kedua kawasan.
''7 dari 10 negara yang pertumbuhan ekonominya tercepat di dunia berada di Afrika. Tapi, banyak pula dari mereka yang masih menghadapi masalah kemiskinan. Karena itu, kita harus bangun kemitraan yang saling menguntungkan karena kita ingin Afrika yang lebih kuat dan makmur,'' tutur Yuri.
Di sisi lain, Asia juga menghadapi tantangan sulit. Ia menyebut konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini sebagai contoh nyata. Belum lagi pengakuan kemerdekaan Palestina yang belum juga terwujud hingga saat ini. Maka itu, pelaksanaan KAA tahun ini akan mengusung isu penguatan dukungan terhadap Palestina. ''Kami akan mengusulkan agar salah satu pernyataan bersama yang dihasilkan dalam peringatan KAA ke-60 nanti adalah memperkuat dukungan terhadap Palestina,'' tukasnya.
Pada kesempatan berbeda, Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Politik Dewi Fortuna Anwar menegaskan bahwa peringatan KAA masih tetap relevan dengan kondisi dunia kontemporer meski merupakan produk diplomasi puluhan tahun lalu. Semangat Bandung yang dimunculkan KAA memungkinkan penggalian potensi kerja sama untuk meningkatkan pengaruh sehingga akan memperkuat daya saing. Kerja sama ini bersifat dinamis sehingga kesempatan yang ada harus dipergunakan untuk kepentingan bersama.
''Kami ingin mengkapitalisasi potensi Asia-Afrika. Asia sebagai <>the engine of growth dan Afrika sebagai <>the continent of hope. Tugas dari konferesi semacam ini (KAA) adalah membangun jembatan di antara kedua hal tersebut," pungkasnya seperti dikutip dari <>Antara.(Din/S-25)