ASIA-AFRIKA perlu memperkuat komitmen dan kemitraan untuk mengangkat harkat dan martabat seluruh bangsa di kedua kawasan benua tersebut. Pesan ini menguat di sela-sela pelaksanaan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) yang mulai berlangsung, kemarin. Sejumlah kalangan pun mendorong penguatan komitmen ini menghasilkan solidaritas bersama untuk meningkatkan posisi bangsa-bangsa Asia-Afrika di tengah dominasi pasar dan negara-negara maju. Pengamat internasional dari Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, misalnya, melihat Indonesia harus menggagas semangat agar bangsa Asia-Afrika lepas dari ketergantungan lembaga ekonomi Barat. Bila memungkinkan, bangsa Asia-Afrika bisa membentuk sendiri lembaga ekonomi untuk membantu negara-negara anggota menyelesaikan masalah.
"Bila masih tergantung dengan ekonomi Barat, bangsa Asia-Afrika tidak akan bisa benar-benar merdeka. Seandainya bisa bebas, akan sangat luar biasa," tuturnya. Hikmahanto memaparkan contoh bahwa Bank Dunia dibentuk untuk merekonstruksi kembali Eropa setelah Perang Dunia II. Setelah itu, Eropa secara ekonomi bisa bersaing dengan AS. "Namun, mengapa ketika Bank Dunia membantu negara-negara Asia-Afrika, mereka tetap tidak bisa bersaing dengan Eropa dan AS?" tanyanya. Pendiri Setara Institute Romo Benny Susetyo menekankan agar momentum KAA dapat menghasilkan kemandirian. "Kemandirian politik dan ekonomi untuk melawan musuh bersama, yaitu praktik perbudakan seperti dominasi ekonomi, eksploitasi sumber daya alam, dan intervensi dari negara-negara maju," ujar Benny, kemarin. Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, melihat Indonesia dan negara Asia-Afrika harus berani menetapkan target dan konsep yang jelas agar peringatan KAA kali ini tidak sekadar seremonial yang minim substansi. "Salah satunya ialah berani memiliki konsep untuk merestrukturisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)," tegas Teuku.
Selatan-Selatan Menlu Retno Marsudi membuka Konferensi Selatan-Selatan dan Triangular pada hari pertama penyelenggaraan peringatan 60 tahun KAA di Jakarta Convention Center (JCC), kemarin. Kerja sama Selatan-Selatan tersebut, menurut Menlu, menjadi bagian tak terpisahkan negara-negara Asia dan Afrika. "Bagi Indonesia, kerja sama Selatan-Selatan merupakan kerangka kerja yang penting untuk membangun kemitraan dengan negara-negara berkembang untuk menanggapi tantangan dunia dan mendorong perkembangan ekonomi di antara negara-negara anggota," tegas Menlu. Tidak hanya antarnegara Selatan-Selatan, Indonesia, tambah Menlu, juga membangun kerja sama dengan pihak lain.
"Oleh sebab itu, dibuat juga kerja sama Triangular," lanjutnya. Retno menambahkan Indonesia telah melakukan lebih dari 400 program dalam memperkuat kapasitas teknis dengan negara-negara Asia dan Afrika. Program-program tersebut mencakup bidang pendidikan, pertanian, perikanan, demokratisasi, good governance, dan manajemen risiko bencana. Peringatan 60 tahun KAA berlangsung 19-24 April 2015 di Jakarta dan Bandung. Sebanyak 109 negara diundang dan tak kurang dari 35 kepala negara/pemerintah menyatakan hadir. Hari ini dijadwalkan Pertemuan Tingkat Menteri Asia-Afrika. Selain itu dijadwalkan pula pertemuan World Economic Forum dalam momentum KAA.