Nehru dan Kekhawatirannya soal Toilet

Berbagai sumber/Drd/E-2
19/4/2015 00:00
Nehru dan Kekhawatirannya soal Toilet
(AP/ASIA-AFRICA MUSEUM)
SEPUCUK surat bertanggal 20 Februari 1955 tiba di tangan Perdana Menteri (PM) Ali Sastroamidjojo.

Dalam surat itu, PM India Jawaharlal Nehru menulis perihal persiapan momen akbar yang bakal berlangsung untuk pertama kalinya, Konferensi Asia Afrika (KAA) di Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia, 18-24 April 1955.

'Yang terhormat Perdana Menteri. Surat ini akan dibawa Mohammad Yunus, yang berangkat besok pagi ke Jakarta. Dia adalah satu dari tim kami untuk membantu Sekretariat Bersama Konferensi Asia Afrika', demikian tulis Nehru.

Ia memberi tahu dirinya baru saja kembali dari Inggris.

Dalam perjalanan pulang, ia melawat ke Kairo, Mesir.

Di 'Negeri Piramida', Nehru menjumpai PM Gamal Nasser dan mengajaknya menghadiri KAA.

Ajakan Nehru disambut hangat.

Bahkan, Nasser mengatakan akan melawat ke India sebelum melanjutkan perjalanan ke Indonesia.

'KAA telah menarik perhatian sangat besar di dunia. Ini akan menjadi event luar biasa', tulis tokoh gerakan kemerdekaan India itu kepada Sastroamidjojo.

Maka itu, ia pun mewanti-wanti Indonesia sebagai pihak penyelenggara agar forum tidak dipenuhi basa-basi.

"Kita hanya akan bertemu kurang lebih seminggu, waktu yang amat terbatas. Saya harap itu tidak akan tersita oleh berbagai protokol rutin dan jamuan."

Bersama dengan tokoh sentral lain dari sejumlah negara dengan pemerintahan baru, termasuk Indonesia, Nehru memang jadi penggagas dan penggerak KAA 1955.

Tidak mengherankan bila ia amat peduli dengan detail.

Yang menarik, dalam surat Nehru kepada duta besarnya untuk Indonesia, Badr-ud-Din Tyabji, tersurat kegelisahannya perihal teknis penyelenggaraan KAA yang ia yakini akan mengukir sejarah.

'Satu fakta yang harus diingat, dan ini kadang dilupakan di Indonesia, yaitu pengadaan memadai akan kamar mandi dan toilet. Orang-orang bisa terima ketiadaan ruang kerja, tapi tidak untuk kamar mandi dan toilet', tulis Nehru di surat yang juga bertanggal 20 Februari 1955.

Entah karena mengetahui kecemasan itu atau bukan, Presiden Soekarno belakangan mengecek sendiri kondisi toilet di Gedung Dwi Warna, salah satu spot pertemuan dalam konferensi, dua pekan sebelum KAA.

KAA kemudian menjelma cikal-bakal Gerakan Non-Blok dan membuat pria kelahiran 14 November 1989 itu sebagai sosok krusial dalam perpolitikan internasional.

Sayangnya, dalam peringatan ke-60 KAA ini, PM India Narendra Modi mesti absen karena sedang berlangsung sidang final anggaran pemerintah di parlemen sana.

Indonesia sejatinya menilai penting kehadiran India.

Selain faktor historis, ia kini salah satu perekonomian terbesar dunia.

Kehadiran India akan memacu semangat penguatan kerja sama Selatan-Selatan dan Kemitraan Strategis Asia-Afrika Baru yang ingin diusung Indonesia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya