PRESIDEN Kolombia Juan Manuel Santos mencabut penundaan serangan udara terhadap kelompok pemberontak FARC (Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia).
Pencabutan itu dilakukan setelah kelompok Marxis itu diduga menembak mati 10 tentara pemerintah dalam serangan Rabu (15/4).
Serangan di wilayah barat Kolombia yang juga melukai 20 tentara itu merupakan serangan mematikan pertama sejak dimulai pembicaraan damai antara pemerintah dan FARC sejak dua tahun lalu.
"Saya telah memerintahkan angkatan bersenjata untuk mengakhiri penundaan serangan bom terhadap kamp FARC," tegas Santos, kemarin.
"Ini jelas untuk FARC. Saya tidak akan tertekan dengan tindakan keji seperti ini untuk membuat keputusan," imbuh Presiden Kolombia itu.
Tahun lalu, FARC mendeklarasikan gencatan senjata sepihak sejak November 2012 jelang pelaksanaan pembicaraan damai yang digelar di Havana, Kuba.
Namun, Santos menolak tawaran gencatan senjata dua pihak itu sampai ada kesepakatan damai komprehensif. Namun, saat itu, dia menyatakan militer Kolombia menunda serangan udara terhadap kelompok pemberontak yang paling ditakuti di Kolombia.
Dari Havana, juru bicara FARC Pastor Alope mengaku menyesali aksi penembakan terhadap prajurit pemerintah itu. Namun, dia juga menyalahkan pemerintah atas perintah untuk tetap melancarkan serangan terhadap pasukan FARC yang tengah dalam gencatan senjata.
"Apakah itu penyergapan atau penyergapan balasan, yang terjadi adalah warga Kolombia yang tewas," kata Alape sembari meminta pemerintah tidak melancarkan serangan balasan.
Serangan Rabu (15/4) terhadap tentara pemerintah terjadi di daerah pegunungan terpencil di Provinsi Cauca. Wilayah itu memang dikuasai kelompok pemberontak FARC yang telah melakukan perlawanan terhadap pemerintah Bogota selama lima dekade.
Seorang pejabat militer senior mengatakan tentara infanteri pemerintah diserang saat sedang berpatroli.
"Mereka diserang dengan bom, granat, dan tembakan senjata," kata Jenderal Mario Augusto Valencia, komandan militer Divisi III kepada para wartawan.
Kepada stasiun radio lokal Blu, Gubernur Provinsi Cauca Temistocles Ortega menjelaskan para tentara ditembaki di sebuah dusun yang dikenal dengan nama La Esperanza.
Tentara yang terluka dievakuasi petugas Palang Merah dan petugas medis. Namun, dengan cuaca yang buruk dan lokasi yang terpencil, operasi evakuasi menghadapi kesulitan.
Dengan tewasnya tentara akibat serangan anggota kelompok FARC, upaya untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima dekade itu semakin sulit.
"Kami menyesalkan kematian tentara di Cauca. Ini jelas perang yang kami usahakan untuk diakhiri," kata Santos di akun Twitter. (AFP/Drd/I-2)