Keluarga Korban Boikot Peringatan Sewol

MI/WENDY MEHARI UTAMI
17/4/2015 00:00
Keluarga Korban Boikot Peringatan Sewol
Presiden Korea Selatan Prak Guen-hye (kedua dari kiri) saat mengunjungi lokasi tenggelamnya kapal ferry Sewol(AP/Lee Jeong-ryong)
PRESIDEN Korea Selatan Park Geun-hye, kemarin, mengunjungi Pulau Jindo, sisi selatan Korsel, tempat terdekat dari lokasi tenggelamnya Sewol, untuk memperingati setahun tenggelamnya kapal feri yang menewaskan 304 penumpang.

Saat berkunjung ke Jindo, Park menyampaikan janjinya untuk mengangkat Sewol yang hingga kini masih berada di dasar laut, sekitar 40 meter dari permukaan.

Upaya pengangkatan kapal seberat 6.825 ton itu diperkirakan akan memakan biaya hingga US$110 juta.

"Saya pun masih selalu merasa sedih saat memikirkan masih ada sembilan orang di dalam air yang dingin, juga para keluarga. Saya akan mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mengangkat kapal itu dalam waktu dekat," ucap Park.

Namun, janji Park itu tidak cukup untuk meredam amarah dan kekecewaan kerabat korban yang sebagian besar merupakan murid sekolah menengah di Kota Ansan.

Para kerabat bahkan menolak menemui Park di Jindo. "Menurut kami, kata-katanya itu tidak bermakna," kata Yoo Gyoung-geun, perwakilan kerabat korban. Keluarga korban, lanjutnya, masih menunggu kepastian pengangkatan kapal dan kepastian pemerintah melakukan penyelidikan secara independen tentang insiden setahun silam itu.

Tragedi itu dituding terjadi akibat desain kapal yang tidak sesuai dengan aturan dan berlebih muatan, diiringi sederet tudingan yang lebih luas termasuk korupsi, ketiadaan standar keselamatan, dan kegagalan kebijakan pemerintah yang dinilai lebih berfokus pada pertumbuhan ekonomi ketimbang keselamatan penumpang pada transportasi.

Ansan

Sesuai dengan ancaman yang dilontarkan saat berkunjung ke Jindo dan menebar bunga ke lautan, keluarga korban Sewol memboikot peringatan yang digelar di Jindo.

Alih-alih menemui Presiden, keluarga korban justru memfokuskan peringatan di Kota Ansan. Dari 304 korban yang tewas, 250 merupakan murid sekolah menengah atas di Ansan.

Di kota yang terletak di selatan Seoul itu, warga mengibarkan bendera setengah tiang dan mengikatkan pita kuning di pohon juga lampu jalan. Sirene pun dibunyikan pada pukul 10.00 waktu setempat sebagai penanda mengheningkan cipta selama 1 menit.

Warga Ansan juga berdatangan ke memorial hall untuk mengikuti peringatan setahun tragedi Sewol. Di sana, ratusan foto murid yang tewas dipajang dengan untaian pita-pita hitam dan rangkaian bunga.

Para keluarga meratapi anak-anak mereka. Selain meletakkan bunga, keluarga menaruh boneka, kudapan kesukaan anak, dan pesan tertulis di bawah setiap foto.

Salah satu pesan tertulis berbunyi, "Anakku, semoga kau bahagia di atas sana. Mama rindu sekali padamu.

"Di sudut lain, sebidang layar besar menampilkan foto-foto keluarga para korban dengan spanduk besar bertuliskan, 'Kami mohon maaf. Kami sayang pada kalian. Kami tidak akan lupa'.

Salah satu orangtua korban, Chun Myeong-sun, berkata, "Dengan cara ini, kami ingin kematian anak-anak kami menjadi pelajaran supaya tidak ada lagi yang harus merasakan kesedihan seperti ini.

"Saat tenggelam pada 16 April 2014 dalam rute Incheon-Jeju, feri Sewol membawa 476 penumpang, termasuk 325 murid sekolah menengah atas di Ansan. Hanya 75 murid yang selamat. Adapun jenazah yang ditemukan mencapai 295 jasad dan sembilan lainnya belum ditemukan hingga kini. Tim penyelamat mengakhiri pencarian jenazah pada November 2014 karena penyelaman dinilai terlalu berbahaya. (AFP/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya