MEMBURUKNYA krisis peperangan di Yaman antara kelompok pemberontak Syiah Houthi dan pasukan pemerintah yang didukung koalisi Teluk membuat ratusan warga Amerika Serikat (AS) meninggalkan negara itu melalui jalur laut. Seorang pejabat Washington mengungkapkan, Selasa (14/4) waktu setempat, ratusan warga 'Negeri Paman Sam' beserta keluarga mereka eksodus mengikuti rombongan manusia yang keluar dari Yaman. Mereka memilih keluar dari Yaman menyusul serangan udara yang semakin gencar dilancarkan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap pemberontak Houthi. Mereka mengungsi ke Republik Djibouti di Tanduk Afrika (Horn of Africa) dengan menumpang kapal milik India, Korea Selatan, dan Rusia yang berlayar dari Yaman melalui sebuah jalur kecil di Laut Merah, hanya selebar 30 kilometer.
Pekan lalu, AS mengakui tidak memiliki rencana-rencana segera atau dalam waktu dekat untuk menyelamatkan warga negaranya yang terperangkap perang di Yaman dan menyeru kepada mereka untuk meninggalkan wilayah konflik lewat akses laut. Hal itu meningkatkan kritik keras yang mengklaim warga yang mengantongi dua kewarganegaraan Yaman-AS telah ditelantarkan Washington. Juru bicara Departemen Luar Negeri Marie Harf menyebut kritikan tersebut 'ofensif'. Dia mengatakan ratusan warga AS yang tiba di Djibouti itu telah disuplai makanan, air, dan perawatan medis serta tempat berlindung dari panas oleh pejabat kedutaan AS ketika mereka menunggu proses pemeriksaan. Jumlah staf kedutaan AS juga telah ditingkatkan untuk membantu proses aplikasi oleh anggota keluarga warga AS secepat mungkin.
"Otoritas Keamanan Dalam Negeri telah memberikan kewenangan yang luar biasa untuk tim konsuler di Djibouti guna menerima dan menyetujui permohonan visa imigran untuk pasangan keluarga, anak-anak, dan orangtua warga AS," kata Harf. Duta Besar AS untuk Djibouti Tom Kelly mengatakan lewat akun Twitter pribadinya, Selasa (14/4), bahwa sejauh ini ada 178 warga AS dan 125 anggota keluarga non-AS yang tiba di Djibouti dengan 12 kapal dan satu pesawat. 'Terima kasih #Djibouti untuk keramahan dan bantuan kemanusiaan bagi #Yemenrefugees', tulisnya di Twitter dengan mengunggah gambar kapal yang tengah merapat. Para pejabat AS mengatakan ada kekhawatiran besar bahwa operasi AS untuk meng-evakuasi warganya bisa menjadi target sasaran, di tengah kekacauan di Yaman yang semakin meningkat. "Kami benar-benar berpikir bahwa jika aset militer AS dibawa ke pelabuhan, itu akan menjadi risiko keamanan yang signifikan," kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri sembari menambahkan ada kekhawatiran langkah tersebut bisa menempatkan setiap jiwa pada risiko.