PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Barack Obama berencana mencabut status Kuba dari daftar hitam terorisme dunia.
Hal tersebut merupakan langkah penting dalam pemulihan hubungan yang membeku di antara kedua negara selama lima dekade terakhir.
Kemarin, Obama mengatakan kepada Kongres bahwa ia berniat menghapus pencan-tuman Kuba dari daftar hitam terorisme.
Keputusan tersebut diambil setelah peninjauan panjang oleh pemerintah AS sejak akhir tahun lalu sebagai upaya memulihkan hubungan dengan musuh sejak era perang dingin itu.
Anggota parlemen AS memiliki waktu 45 hari untuk memikirkan niat Obama itu.
Jika tidak ada keputusan hingga tenggat, rencana Obama itu akan disahkan.
Hal itu akan menghapus rintangan utama yang selama ini menjadi penghalang hubungan diplomatik di antara dua negara di benua Amerika tersebut.
'Pemerintah Kuba tidak pernah memberikan dukungan dalam bentuk apa pun kepada kelompok teroris internasional selama periode enam bulan terakhir', tulis Obama kepada Kongres.
Pemerintah Kuba sangat senang dengan keputusan Obama tersebut.
"Nama Kuba memang seharusnya tidak pernah ada di dalam daftar hitam tersebut," ujar Kepala Delegasi Kuba untuk Normalisasi Hubungan dengan AS, Josefina Vidal.
Keputusan Obama itu terjadi tiga hari setelah dirinya mengadakan pertemuan bersejarah dengan Presiden Kuba Raul Castro di sela-sela KTT Amerika di Panama City, Panama.
Pertemuan tersebut menjadi tatap muka pertama di antara presiden kedua negara tersebut dalam tempo setengah abad terakhir.
Obama, Desember lalu, juga mengakui bahwa AS dan Kuba selama 18 bulan terakhir telah melakukan perundingan secara rahasia.
Republik menentang Namun, langkah Obama untuk mencabut Kuba dari daftar negara penyokong terorisme mendapat tentangan dari senator Partai Republik, Marco Rubio.
"Mereka (Kuba) menampung buron AS, termasuk seseorang yang membunuh polisi di New Jersey sekitar 30 tahun lalu. Negara itu juga membantu Korea Utara menghindari embargo senjata yang diterapkan PBB," seru Rubio.
Ed Royce, anggota parlemen dari Partai Republik, menganggap Gedung Putih mengambil langkah besar untuk melakukan pendekatan dengan rezim Castro tanpa berkonsultasi dengan Kongres.
"Keputusan tersebut sangat terburu-buru," kecam Royce.
AS dan Kuba saling memutuskan hubungan sejak Fidel Castro bersekutu dengan Uni Soviet pada awal 1960-an.
Kuba dimasukkan ke daftar hitam AS pada 1982 ketika mereka dituding membantu pergerakan pemberontak di Afrika dan Amerika Latin.
Sanksi itu membuat akses Kuba ke perbankan internasional dan pasar keuangan luar negeri menjadi terbatas.
Jika dicoret dari daftar hitam, Kuba akan memiliki akses ke sistem perbankan AS dan pembatasan-pembatasan lain seperti larangan ekspor dan penjualan senjata akan dicabut. (AFP/I-2)