'NEGERI Gajah Putih' termasuk negara yang mendapat sorotan soal perbudakan. Tak pelak lagi, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menyejajarkan Thailand dengan Iran, Kuba, Zimbabwe, dan Korea Utara dalam catatan suram perbudakan terutama terkait dengan pekerja imigran.
Annette Lyth, Manajer Proyek Regional Aksi PBB untuk Kerja Sama Mengatasi Perdagangan Manusia, mengatakan memang tidak mudah mengestimasikan jumlah korban trafficking di Thailand.
"Dapat disimpulkan dari sejumlah fakta, ada populasi pekerja migran di Thailand yang diperkirakan mencapai 3 juta orang sampai 4 juta," kata Lyth. Populasi itu masih belum termasuk para pekerja migran yang tidak terlaporkan yang rentan dijerat utang dan dikendalikan majikan.
Penelitian terbaru Organisasi Buruh Internasional (ILO) mengungkapkan 16,9% nelayan di Thailand merupakan para pekerja paksa. "Jumlah itu sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan jumlah yang dikeluarkan pemerintah pada 2013 yang mengatakan hanya terdapat 674 kasus perdagangan manusia," imbuh Lyth.
Sebagian besar perbudakan di Thailand terjadi pada para nelayan, pekerja pabrik makanan laut, pekerja konstruksi, dan pekerja seks. "Dalam beberapa kasus, orang-orang yang menjadi korban perdagangan manusia pada awalnya karena mereka diajak dan diiming-imingi untuk bekerja di luar negeri dengan upah yang tinggi," tutur Lyth.
Sebagian lainnya ada yang memang mencari pekerjaan sendiri melalui agen rekrutmen. Namun, dalam proses dan perjalanan mereka dibius dan ketika sadar mereka telah berada di tempat asing yang tidak mereka ketahui.
Sebagian besar korban kerja paksa yang diawali sebagai korban trafficking di Thailand berasal dari negara-negara sekitarnya, terutama dari Kamboja dan Myanmar. Sebagian pekerja migran dari Laos dan Vietnam. Bahkan broker pekerja migran Thailand juga merekrut pekerja dari beberapa negara Afrika dan negara pecahan Uni Soviet.
Riset ILO terkait dengan pekerja migran asal Myanmar di perusahaan pemrosesan udang di Provinsi Samut Sakhon, Thailad, terungkap bahwa satu pertiga dari jumlah pekerja migran itu memang korban trafficking yang dikirim ke perusahaan itu.
Secara umum, para broker pekerja itu mencari orang-orang yang memimpikan untuk memperbaiki kehidupan mereka. Karena itu, korban trafficking berasal dari keluarga miskin, daerah perdesaan, dan mereka yang buta soal keadaan di negara yang akan dituju.
'Jual beli' pekerja imigran itu memang dilakukan secara diam-diam dan rahasia. Hingga kini, PBB pun menghadapi kesulitan untuk mengungkapkan angka pasti jumlah pekerja migran yang menjadi korban perbudakan. "Namun, faktanya angkanya tidak pernah menunjukkan penyusutan," tegas Lyth. (DW/AP/Pra/I-3)