Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memperingatkan Iran yang berupaya mengambil alih kapal tanker minyak Inggris di perairan Teluk. Washington bahkan siap menjatuhkan sanksi yang lebih keras.
Peringatan sanksi dari Trump, tertuang dalam akun Twitter-nya. Hal itu mengemuka ketika penasihat diplomatik utama Presiden Prancis Emmanuel Macron, bertemu dengan Presiden Iran, Hassan Rouhani, di Teheran. Mereka membahas langkah penyelamatan kesepakatan nuklir 2015 yang sangat krusial.
Baca juga: Panjat Gerbang Istana Buckingham, Seorang Pria Ditahan
Perjanjian multilateral antara Iran dan sejumlah kekuatan dunia menjanjikan pengurangan sanksi, manfaat ekonomi dan mengakhiri isolasi internasional. Sebagai imbalan, Iran harus melakukan pembatasan ketat terhadap program nuklirnya.
Teheran menyatakan hilang kesabaran, dengan dalih negara-negara Eropa tidak mengambil langkah khusus. Tepatnya, setelah Trump menarik AS keluar dari perjanjian secara sepihak. Washington kemudian menjatuhan sanksi yang mengguncang perekonomian Iran.
Ketegangan antara Washington dan Terehan memanas dalam beberapa pekan terakhir. AS menuding Iran sebagai dalang kasus penyerangan terhadap sejumlah kapar tanker. Republik Islam pun menembaki pesawat pengintai tanpa awak milik AS.
Pada Rabu kemarin, beberapa kapal bersenjata Iran dilaporkan merebut sebuah kapal tanker minyak milik Inggris. Namun, tindakan itu berhasil dicegah sebuah fregat Angkatan Laut Kerajaaan. Berdasarkan dua sumber pejabat AS, Iran menginstruksikan kapal tanker yang tengah menyeberangi Selat Hormuz, untuk mengubah haluan dan berhenti di perairan Teheran terdekat.
Sebuah pesawat AS merekam insiden tersebut, yang berakhir ketika HMS Montrose mengeluarkan senjata dan berhasil memperingatkan mereka untuk mundur. Adapun, Rouhani memperingatkan Inggris terkait konsekuensi yang belum ditentukan, atas kasus penahanan salah satu kapal tanker minyak di Gibraltar.
Pekan lalu, kapal tanker Grace 1 dihentikan oleh petugas kepolisian dan bea cukai di Gibraltar, wilayah luar Inggris di ujung selatan Spanyol, dengan bantuan detasemen Marinir Kerajaan Inggris. Iran bereaksi keras dan mengutuk penahanan yang dinilai sebagai "intersepsi ilegal". Akan tetapi, pejabat Gibraltar mengatakan kargo tersebut diyakini bertujuan ke Suriah, yang mendapat sanksi Eropa.
Utusan Macron, Emmanuel Bonne, bertemu dengan Rouhani, pada Rabu kemarin, seraya menekankan jalur diplomasi dan negosiasi terbuka menjadi strategi penyelesaian. Dia meminta pihak lain yang terlibat dalam kesepakatan nuklir untuk memegang komitmen dengan teguh.
Di samping itu, Bonne juga menemui Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Laksamana Muda Ali Samkhani dan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif. Misi utamanya ialah membuka ruang diskusi untuk menghindari eskalasi ketegangan yang tidak terkendali.
"Negosiasi sebaiknya tidak dilakukan di bawah tekanan," pungkas Zarif yang menyinggung sanksi AS terhadap Iran, sebelum bertemu Bonne. Menyoroti keluarnya AS dari perjanjian nuklir, pihaknya menekankan komunitas Eropa harus menyelesaikan persoalan tersebut.
Kedatangan Bonne di Teheran, setelah Iran mengumumkan peningkatan pengayaan uranium sebesar 4,5%, atau di atas batas 3,67% seturut perjanjian, pada Senin lalu. Akan tetapi, besaran tersebut masih di bawah level 90%, yang dibutuhukan untuk keperluan militer. Awal bulan ini, Iran dipastikan melampaui batas 300 kilogram (km) cadangan uranium yang diperkaya.
Baca juga: Satelit Hayabusa 2 Kembali Mendarat di Asteroid Ryugu
Atas permintaan Washington, pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadakan pertemuan khsusu di kantor pusat Wina, Austria. Dalam pertemuan, delegasi AS Jacki Wolcott mengatakan Iran terlibat dalam "pemerasan nuklir". Rekanannya dari Iran, Kazem Gharib Abadi, merespons dengan menyebut "ironi yang menyedihkan". Bahwasanya pertemuan diadakan atas permintaan AS, dan mengklaim konflik saat ini merupakan hasil dari tindakan jahat Washington.
Selain menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2018, AS juga memberlakukan sanksi terhadap Teheran, yang menghantam sektor perbankan dan perminyakan. Begitu ekonomi Iran terjun bebas, pemerintah menuntut agar pihak lain, terutama Eropa, menggulirkan manfaat ekonomi yang dijanjikan, serta menyokong Iran yang dijatuhkan sanksi. Dengan ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor minyak, bukan sesuatu yang mudah bagi Iran untuk mengubah taktik. Perlu kesabaran ekstra untuk membentuk kembali kebijakan strategis. (AFP/OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved