Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Barack Obama dan Presiden Kuba Raul Castro, kemarin, bersama-sama bergabung dalam Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara Amerika ketujuh di Panama City, Panama.
Itu merupakan pertemuan resmi pertama pemimpin AS dan Kuba selama lebih dari 50 tahun.
Obama dan Castro pun diagendakan mengadakan diskusi di sela-sela konferensi 35 negara itu guna membahas upaya pemulihan hubungan diplomatik kedua negara.
Ben Rhodes, ajudan senior Obama, menyatakan kedua pemimpin akan memerinci sejumlah isu, termasuk negosiasi pembukaan lagi kedutaan besar.
Pada hari sebelumnya, Obama dan Castro telah bertemu dan berjabat tangan, juga bertukar ucapan singkat. Jabat tangan keduanya dipandang sebagai tonggak bersejarah dalam upaya pemulihan hubungan diplomatik AS-Kuba yang membeku sejak 1961.
Pejabat AS menyebut jabat tangan Obama dan Castro itu sebagai interaksi nonformal dan tanpa percakapan substantif di antara keduanya.
Obama dan Castro terakhir kali berjabat tangan secara singkat pada upacara penghormatan terakhir mendiang Nelson Mandela di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 2013.
Pertemuan pemimpin AS-Kuba pun terakhir kali terjadi pada 1956, tiga tahun sebelum Fidel Castro, kakak Raul Castro, menjabat presiden.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon, yang hadir dalam konferensi dan menyaksikan Obama dan Castro bersalaman juga berkomentar, "Kehadiran Presiden Raul Castro di sini mengobati kerinduan banyak negara di kawasan ini."
Itu memang merupakan kali pertama dalam 21 tahun pemimpin Kuba menghadiri konferensi regional.
Dalam forum yang digelar sebelum konferensi dimulai, Obama menyampaikan kepada para pemimpin Amerika Latin bahwa masa-masa AS bisa bebas mencampuri urusan kawasan ialah masa lalu.
Obama juga mengutarakan harapan mencairnya hubungan AS-Kuba akan meningkatkan kehidupan rakyat Kuba.
"Bukan karena dipaksa kami, AS, melainkan berkat bakat, kecerdikan, dan aspirasi semua lapisan masyarakat sehingga mereka dapat memutuskan yang terbaik untuk mendapatkan kemakmuran," tutur Obama.
Sejumlah pengamat internasional menilai komentar Obama yang menyebut campur tangan AS di kawasan merupakan cerita yang telah lalu itu juga ditujukan kepada Venezuela, serta sejumlah pemimpin Amerika Latin yang memandang ucapan Obama sebagai retorika imperialis AS.
Belum lama ini, Presiden Venezuela Nicolas Maduro tidak hanya menuduh AS campur tangan urusan dalam negerinya, tetapi juga mengobarkan kudeta atas pemerintahannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved