25 Kepala Negara Pastikan Hadiri KAA

MI/HAUFAN HASYIM SALENGKE
11/4/2015 00:00
25 Kepala Negara Pastikan Hadiri KAA
(ANTARA)
MENTERI Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi, kemarin, mengungkapkan bahwa jumlah kepala negara atau pemerintahan yang sudah mengonfirmasi akan menghadiri Konferensi Asia Afrika (KAA) di Jakarta dan Bandung, 19-24 April mendatang, sebanyak 25. Jumlah itu masih akan bertambah. Konferensi itu juga akan dihadiri pejabat setingkat wakil presiden, menteri luar negeri, dan utusan khusus.

Di sela-sela KAA, Presiden RI Joko Widodo dijadwalkan menggelar pertemuan bilateral dengan sejumlah kepala negara. "Presiden telah menerima permintaan pertemuan bilateral dari 18 kepala negara atau pemerintahan. Di tengah situasi politik dunia yang tidak begitu kondusif, dalam pertemuan itu Presiden akan menekankan solidaritas dan kebersamaan," ungkap Retno di kantornya, Jakarta, setelah mengadakan pertemuan khusus dengan Kepala Staf Kepresidenan Luhut Pandjaitan selaku penanggung jawab panitia nasional peringatan 60 tahun KAA.

Tiongkok, Myanmar, Vietnam, Pakistan, Bangladesh, Zimbabwe, Mozambik, Mesir, Nepal, Yordania, dan Jepang termasuk yang sudah mengajukan pertemuan bilateral dengan Presiden Jokowi.

Penyelenggaraan KAA diagendakan menghasilkan tiga dokumen penting, yakni Bandung Message, Declaration of Reinvigorating The New AsianAfrican Strategic Partnership, dan Declaration on Palestine.

Inti Bandung Message ialah memperkuat solidaritas dan kerja sama negara-negara Asia dan Afrika di berbagai bidang.Declaration of Reinvigorating The New Asian-African Strategic Partnership ialah inisiatif baru untuk me ningkatkan peran NAASP. "Declaration on Palestine ialah pernyataan kembali dukungan bagi kemerdekaan Palestina," tegas Retno.

Asia Africa Business Summit yang diagendakan dalam rangkaian KAA, sambung Retno, akan dihadiri 200 pebisnis dari kedua kawasan. "Ini berarti kepercayaan publik internasional kepada Indonesia cukup besar," ucapnya.

Relevan
Pakar kebijakan dan hubungan internasional, Dewi Fortuna Anwar, menegaskan KAA yang dihelat 60 tahun silam masih sangat relevan dengan dunia saat ini. "KAA merupakan pesan penting dari negara-negara saat itu bahwa mereka bagian penting dari international affairs. Tantangan besar kita saat ini membangun forum formal antara kawasan Asia dan Afrika," ungkap Dewi dalam seminar internasional bertajuk Asia and Africa: Where are We Know and Where We are Heading yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, kemarin.

Duta Besar India untuk RI, Gurjit Singh, menambahkan tantangan besar yang di hadapi negara-negara Asia dan Afrika saat ini ialah terorisme, perubahan iklim, dan epidemi penyakit. "Kita juga harus meningkatkan hubungan people to people," ucap Singh.

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu RI, Yuri Octavian Thamrin, menyatakan tantangan besar kini ialah promosi kerja sama bidang politik, keamanan, dan ekonomi Asia dan Afrika. Dia mengilustrasikan kerja sama perdagangan antara Asia dan Afrika yang terus meningkat. Pada 1990 nilai perdagangan antara dua kawasan hanya US$2,8 miliar. Pada 2012, angka itu meningkat menjadi lebih dari US$270 miliar. (I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya