Meningkatkan Daya Tawar KAA

Dinny Mutiah
10/4/2015 00:00
Meningkatkan Daya Tawar KAA
(ANTARA/David Muharmansyah)
PERINGATAN Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 di Bandung, Jawa Barat, pada 19-24 April mendatang bernilai historis tinggi. Untuk itu, momen ini semestinya dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memantapkan posisinya di kancah internasional.

Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran Obsatar Sinaga mengemukakan hal itu dalam Forum Tematik Bakohumas yang diadakan di Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/4).

''Setelah KAA, 50 negara merdeka di Asia dan Afrika. Sayangnya, pemimpin yang sekarang bukan pelaku sejarah tersebut sehingga banyak yang tidak mengingat lagi. Ini yang harus kita ingatkan kembali. Jangan jadi ajang nostalgia semata,'' ujarnya.

Menurutnya, langkah strategis yang harus segera dilakukan pertama kali ialah pembentukan opini mengenai pentingnya KAA baik bagi masyarakat Indonesia sendiri maupun negara-negara terkait. Opini tersebut bisa mengena jika menghadirkan isu yang relevan dan dikomunikasikan secara tepat.

Isu-isu tesebut selanjutnya digodok dalam sejumlah dokumen yang bisa menjadi rujukan tindakan selanjutnya. Setiap negara akan melihat isu-isu sesuai dengan national interest-nya. ''Mengapa isu yang sekian banyak itu tidak dirangkum dalam dokumendokumen sehingga membuat perhatian mereka tertarik pada kita?'' jelas Obsatar.

Tanggung jawab ini, kata dia, tidak hanya terletak pada Kementerian Luar Negeri. Fungsi itu justru berada di tangan humas-humas pemerintah yang nyatanya kurang merespons makna penting momen peringatan KAA.

''Seharusnya humas (pemerintah) sudah dari dulu dilibatkan. Paling tidak setahun sebelum acara sudah menyebarkan informasi,'' cetusnya.

Saat menjawab hal ini, Ketua Umum Bakohumas Freddy H Tulung menyampaikan pelibatan KAA menjadi pilot project perdana pelaksanaan kehumasan pemerintah, sebelum peraturan presiden tentang kehumasan pemerintah dilansir.

Sinergi
Dengan kata lain, momentum KAA ke-60 dimanfaatkan Bakohumas sebagai uji coba untuk menyinergikan peran antarhumas pemerintah dalam menyuarakan isu lintas sektoral. Hal tersebut sebagai perbaikan dari kinerja humas
yang cenderung bekerja secara sektoral.

''Selama ini, humas pemerintah hanya dipersiapkan menjadi mata dan telinga kementerian masing-masing, sedangkan masalah di masyarakat itu enggak bisa ditangani secara sektoral. Humas semestinya berdiri lintas sektoral,'' sahut Freddy.

Ia menyatakan upaya sinergi ini mulai menunjukkan hasil. Sejumlah kementerian berinisiatif mempromosikan KAA dengan memanfaatkan saluran masing-masing, seperti website, media luar ruang, dan jurnal.

''Contohnya, acuan website resmi untuk KAA itu hanya di www.aacc2015.com, tapi saya ajak agar website kementerian
dan lembaga yang ada me-<>refer ke sana. Kementerian ESDM juga melakukan hal sama dengan memasang sejumlah
spanduk hingga mendorong BUMN mendukung KAA,'' paparnya.

Dirjen Asia Afrika Kementerian Luar Negeri Yuri Octavian Thamrin menambahkan, pelibatan masyarakat tidak kalah penting dalam menyukseskan penyelenggaraan KAA kali ini.

Hal itu bisa berhasil jika masyarakat diyakinkan tentang pentingnya pelaksanaan KAA bagi mereka sendiri. Karena itu, pemerintah berupaya agar KAA menghasilkan hal yang konkret bagi rakyat. ''Kami coba membuat kerja sama Asia Afrika lebih konkret dan relevan dengan harapan rakyat banyak,'' tukasnya.(Din/S-25)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya