CECILIA Heyder, 47, ialah penyandang penyakit lupus dan kanker payudara. Sudah beberapa kali perempuan warga Cile tersebut ditangkap polisi karena menggunakan mariyuana. Dia bukan pecandu. Heyder menggunakan mariyuana untuk meredam rasa sakit.
"Saya bukan kriminalis atau penjual narkoba. Saya pun tidak pernah meminta penyakit ini," kata Heyder.
Perempuan itu termasuk 200 pasien kanker yang secara cuma-cuma akan diberikan dosis mariyuana sebagai obat peredam sakit.
Heyder mengaku senang mendengar kabar itu. Dengan begitu, pasien kanker seperti dia punya akses legal untuk menggunakan mariyuana sebagai peredam rasa sakit.
"Saya jadi tidak harus menggunakan kursi roda lagi. Ini akan mengubah kualitas hidup saya. Saya mungkin tidak akan membaik, tapi saya tidak akan merasa kesakitan," ucap Heyder.
Pada Selasa (7/4), untuk pertama kalinya, Cile memanen mariyuana yang dikhususkan untuk fungsi medis.
Semua itu berawal pada Oktober 2014. Kelompok amal Yayasan Daya mendapatkan izin khusus dari otoritas lokal di Santiago, Cile, untuk menanam 400 tanaman ganja di lahan seluas 100 meter persegi di Distrik La Florida, Santiago.
Minyak tanaman yang termasuk genus Cannabis itu akan diekstrak dan diolah menjadi obat untuk 200 pasien kanker.
Hasil panen akan dibawa ke fasilitas tertutup dan dalam pengawasan ketat, lalu dikeringkan, dan dikirim ke laboratorium untuk diproses. Dosis pertama obat dari ganja itu dijadwalkan dikirim ke sejumlah dokter pada Januari 2016.
"Ini semua tentang martabat para pasien yang setiap hari merasakan sakit dan dibebani pula dengan ongkos medis yang mahal," tutur Rodolfo Carter, Wali Kota La Florida, dalam seremoni panen.
Panen mariyuana tersebut dilakukan setelah Kongres Cile memperdebatkan rancangan undang-undang yang melegalkan budi daya Cannabis, maksimal enam tanaman per orang, untuk kebutuhan medis dan rekreasi.
Undang-undang itu disahkan pada Senin (6/4) oleh komite kesehatan Kongres. Sesuai dengan undang-undang tersebut, mariyuana tidak lagi termasuk kategori hard drug, yakni obat-obatan yang menyebabkan adiksi fisik. Sebaliknya, mariyuana dimasukkan kategori soft drug, yakni obat-obatan yang tidak menyebabkan adiksi fisik.
Meski begitu, penggunaan mariyuana di tempat publik tetap dilarang di Cile. Pembatasan kepemilikan mariyuana pun masih berlaku, yakni maksimal 10 gram per orang.
Saat ini, warga Cile diizinkan mengonsumsi mariyuana secara pribadi, tapi menjual dan membudidayakannya ialah tindakan ilegal. (AFP/I-2)