Inflasi Konsumen dan Produsen Tiongkok Meningkat

Tesa Oktiana Surbakti
09/5/2019 17:50
Inflasi Konsumen dan Produsen Tiongkok Meningkat
Pasar Tradisional di Tiongkok(AFP)

TINGKAT inflasi produsen dan konsumen di Tiongkok mengalami peningkatan pada April 2019. Sebuah tanda positif bagi perekonomian raksasa dunia. Kendati demikian, kalangan analis memperingatkan permintaan riil masih lemah.

Dalam beberapa bulan terakhir, Tiongkok berjuang mendorong kenaikan harga komoditas. Mengingat, inflasi produsen dan konsumen turun di tengah pelambatan ekonomi global. Kondisi tersebut dipengaruhi perang dagang AS-Tiongkok yang sempat memanas.

Baca juga: Mahathir akan Serahkan Kursi PM Malaysia ke Anwar

Berdasarkan data resmi yang dirilis pada Kamis (9/5), indeks harga konsumen (CPI) sebagai parameter utama inflasi ritel, pada April 2019 tercatat naik 2,5% dibandingkan periode serupa tahun lalu. Dibandingkan Maret 2019 pun juga mengalami kenaikan 2,3%.

Kenaikan indeks terjadi di tengah melonjaknya harga daging babi hingga 14,4% dalam setahun terakhir. Wabah flu babi Afrika yang melanda sebagian wilayah Tiongkok, menyebabkan pemusnahan satu juta ekor babi. Tidak hanya itu, harga daging segar, buah-buahan dan sayuran juga meningkat.

"Kami meyakini penyebaran virus flu babi Afrika yang begitu cepat sejak Agustus 2018, berkontribusi menaikkan harga daging babi hingga 40% selama enam bulan ke depan. Kenaikan inflasi CPI didorong oleh lonjakan harga daging babi. akibat berkurangnya pasokan," tutur Lu Ting, ekonom dari Nomura Bank.

Sementara itu, indeks harga produsen (PPI) pada April 2019, barometer utama permintaan domestik, mengalami kenaikan 0,9% dari periode serupa tahun lalu. Adapun dibandingkan Maret 2019, tercatat naik 0,4%. Di lain sisi, kalangan ekonom masih skeptis terhadap prospek ekonomi Tiongkok.

"Kedua parameter resmi inflasi pada bulan lalu juga meningkat, tetapi ini belum bisa ditafsirkan sebagai bukti penguatan permintaan domestik. Apalagi CPI inti bergerak ke arah yang berlawanan, masih ada beberapa tanda kenaikan permintaan yang menekan inlfasi," tukas Julian Evans-Pritchard dari Capital Economics. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal I 2019 stabil di level 6,4%. (AFP/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya