UPAYA pemulangan warga negara Indonesia (WNI) dari Yaman yang dilanda peperangan telah dilakukan secara bertahap sejak bulan lalu. Hingga kemarin, jumlah WNI yang telah tiba di Tanah Air mencapai 771 orang.
"Hari ini (kemarin) sebanyak 71 orang telah dipulangkan lagi ke Indonesia. Dengan ini, jumlah WNI yang telah dievakuasi sebanyak 771 orang," ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi pada jumpa pers di Kantor Kemenlu, Jakarta, kemarin.
Dari 71 WNI yang pulang kemarin, 60 orang berasal dari Kota Salalah, Oman. Kota terbesar kedua di Oman itu menjadi tempat evakuasi WNI sebelum bertolak ke Jakarta. Mereka ialah sebagian dari WNI yang dipulangkan ke Tanah Air yang masuk dua kelompok terbang.
Sebanyak 11 WNI lainnya berasal dari Kota Aden yang dilanda pertempuran antara tentara pemerintah yang didukung serangan udara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi dan kelompok Syiah Houthi yang mendukung pemerintah terguling Presiden Ali Abdullah Saleh.
Sebelum ke Jakarta, 11 WNI itu diterbangkan ke Kota Djibouti, ibu kota Republik Djibouti yang berada di kawasan Afrika Timur. Dari Djibouti, para WNI itu diterbangkan ke Tanah Air.
Situasi tidak menentu Retno Marsudi mengatakan hingga saat ini terdapat 89 WNI yang masih terjebak di Kota Aden, Yaman. Kini kota pelabuhan yang menjadi benteng pertahanan para pendukung Presiden Abd Rabbo Mansour Hadi itu menjadi sasaran penyerang kelompok Houthi yang didukung Iran.
"Kemarin, Selasa (7/4), tim sudah mencoba lagi untuk mengevakuasi. Namun ternyata tim tidak bisa masuk ke pelabuhan," imbuh Retno. Pasalnya pihak keamanan Yaman di Aden hanya mengizin-kan kapal merapat ke pelabuhan apabila seluruh WNI telah siap dan berada di pelabuhan. Aparat keamanan Yaman mengatakan sangat riskan bila kapal terlalu lama berlabuh di Aden. Kondisi sekitar Aden yang menjadi sasaran penyerangan kelompok Houthi sangat berbahaya.
Tim evakuasi Indonesia terus mencari jalur alternatif yang dinilai aman. Tim pernah berusaha memasuki Al-Hudaida melalui jalur darat. Ternyata kondisi jalur menuju kota itu berbahaya. Saat ini, seluruh WNI tinggal di sebuah asrama di Kota Aden. Hingga kemarin, tim evakuasi masih belum bisa masuk ke kota terbesar kedua di Yaman setelah Sana'a itu.
"Di Kota Sana'a masih ada 14 WNI, sedangkan di Kota Al-Hudaida masih ada 24 WNI. Tetapi WNI yang berada di Al-Hudaida sudah siap untuk dipindahkan ke Jizan melalui jalur darat," papar Retno.
Di sisi lain, situasi Yaman kian tidak menentu. Pasukan pendukung pemerintah tidak hanya menghadapi milisi Syiah Houthi yang didukung Iran. Situasi keamanan yang tidak menentu telah dimanfaatkan milisi yang berafilasi dengan jaringan Al-Qaeda atau AQAP.
Pada Selasa (7/5), di daerah perbatasan Yaman dan Arab Saudi, milisi Al-Qaeda merebut pos militer. Mereka juga menembak mati dua tentara Yaman. (AFP/AP/I-3)