AS tidak Jadi Lemah Hadapi Iran

Haufan Hasyim Salengke
08/4/2015 00:00
AS tidak Jadi Lemah Hadapi Iran
()
PRESIDEN Amerika Serikat Barack Obama, kemarin, mengatakan Republik Islam Iran tidak diharuskan mengakui eksistensi negara Israel sebagai prasyarat kesepakatan nuklir yang melibatkan AS dan sekutu-sekutunya. Obama menyebut langkah itu merupakan kesalahpahaman yang fundamental.

"Gagasan bahwa kita mengondisikan Iran tidak memiliki senjata nuklir sebagai bagian dari kesepakatan bahwa Iran harus mengakui Israel sesungguhnya mirip dengan mengatakan bahwa kita tidak akan menandatangani kontrak kecuali sifat rezim Iran benar-benar berubah," kata Obama.

Presiden kulit hitam pertama AS itu menegaskan kesepakatan pembatasan program nuklir Iran ditempatkan di titik prioritas justru karena pihaknya tidak bisa memastikan perubahan suatu rezim. Oleh karena itu, penekanan pada kepemilikan senjata nuklir menjadi sesuatu yang mendasar dalam perundingan itu.

Komentar itu ditujukan untuk menepis seruan Israel yang mendesak kesepakatan nuklir harus menyertakan pengakuan Teheran akan eksistensi 'Negeri Yahudi' itu.

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menentang perundingan nuklir Iran P5+1 (AS, Inggris, Prancis, Rusia, Tiongkok, dan Jerman), telah mengusulkan bahwa setiap kesepakatan akhir dari perundingan itu harus menyertakan 'komitmen Iran atas hak Israel untuk eksis'.

Obama menyebut permintaan Israel itu mengada-ada dan tidak realistis. "Dan pikiran seperti itu, saya pikir, sebuah kesalahan perhitungan fundamental.

"Saya ingin kembali menekankan bahwa kami menginginkan Iran tidak memiliki senjata nuklir karena kami tidak dapat memastikan perubahan sifat rezim. Itulah sebabnya kita tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir," tegas presiden ke-44 AS itu

Para pejabat Israel dan beberapa anggota parlemen AS mengkritik kerangka yang diusulkan dalam kesepakatan nuklir Iran. Mereka menilai kesepakatan itu menyisakan celah yang dapat digunakan Teheran untuk membuat bom nuklir.

Anggota senat dari Partai Republik mempertanyakan ketulusan Iran. Sejumlah politikus menuntut Kongres untuk mengakhiri setiap bentuk perjanjian yang telah diraih.

"Pemerintahan (Obama) perlu menjelaskan kepada Kongres dan rakyat AS mengapa perjanjian interim harus menghasilkan kesepakatan yang melonggarkan tekanan kepada negara (Iran) yang mensponsori teror di dunia," kata pemimpin mayoritas Senat Mitch McConnell.

Siap membela sekutu Arab
Obama mengatakan dia akan terus bekerja sama dengan mitra AS di dunia Arab untuk mengatasi segala gerak-gerik Iran yang mengarah kepada destabilitas di Timur Tengah.

Selama panggilan telepon dengan Sultan Oman Qaboos bin Said Al Said, Obama berjanji untuk bekerja dengan Oman dan mitra regional lainnya untuk mengatasi aktivitas Iran yang merusak tatanan dan stabilitas di kawasan Timur Tengah.

Panggilan Obama itu merupakan bagian dari upaya untuk meyakinkan bahwa kesepakatan program nuklir Iran tidak berarti pelunakan oposisi AS terhadap Iran.

Negara-negara Arab menuduh Iran memicu serangkaian perang di Timur Tengah. Konflik dan peperangan yang terjadi di sejumlah negara seperti di Suriah, Irak, Yaman, Lebanon, dan negara-negara lain dituding sebagai buah campur tangan Iran. (USA Today/Time/AFP/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya